Sekilas tentang Siti Raham

- Juni 07, 2020

Oleh Nuryum Saidah 

Siapa yang tidak mengenal sosok Buya Hamka.  Begitu banyak peran yang dilakoninya,  begitu banyak juga buku yang dihasilkannya. Ulama kharismatik yang begitu hebatnya.  Namun,  pernahkah kita tahu, siapakah sosok yang senantiasa membersamai Buya Hamka? Kita mungkin banyak yang tidak mengenalnya. Tetapi keberadaanya begitu berarti bagi Buya Hamka. Dialah istri Buya yang bernama, Siti Raham. 

Mereka menikah di usia yang teramat muda.  Saat itu Buya Hamka berusia 21 tahun,  sedangkan Siti Raham berusia 15 tahun.  Jika di masa sekarang, pernikahan mereka termasuk pernikahan yang sangat dini. Meski menikah di usia dini,  Siti Raham adalah sosok istri yang sangat mampu memosisikan diri menjadi seorang istri yang baik.  Kesederhanaan dan kesetiaannya begitu luar biasa untuk suaminya. 

Kehidupan yang sangat miskin, pernah mereka lalui bersama.  Bahkan,  pernah sembayang saja mereka harus bergantian karena hanya ada sehelai kain sarung di rumah mereka.

Berbeda dengan Buya Hamka yang suka bersajak-sajak dan memuja keindahan alam, maka Siti Raham bila bicara selalu terus terang, polos, dan dengan aksen Minang yang kental meski mereka pernah merantau ke Makassar, Medan,  Jakarta, dan Pandang Panjang. Pernah,  suatu ketika saat mereka lawatan ke Makassar,  semua yang hadir ingin mendengar istri Buya Hamka ini berpidato. Ketika di atas podium,  Siti Raham hanya berpidato singkat dengan menyampaikan bahwa dia bukan ahli pidato,  namun dia yang selalu mengurus orang ahli pidato,  mulai dari memasakkan makanan hingga menjaga kesehatannya.  Begitu saja yang disampaikannya di atas podium, kemudian dia turun.

Buya Hamka menuturkan jika selama 43 tahun, istrinya mendampinginya,  Siti Raham tidak pernah meminta apa-apa di luar kemampuan Buya.  Dengan memiliki 10 orang anak,  Siti Raham mampu menjaga, mendidik anak-anak mereka semua meski di kondisi yang sulit.

Dituturkan oleh putra mereka, bahwa ibundanya adalah sosok yang menentukan karir ayahnya.  Menurut cerita, setelah penguasaan Jepang jatuh dan mengalami masa krisis di Medan.  Buya Hamka sempat difitnah dengan keji dan dibenci banyak orang. Siti Raham sebagai istri, mengajak Buya meninggalkan kota itu.  Di saat Buya kebingungan,  sang istri yang menguatkannya.

Di saat yang lain,  ketika Soekarno menyuruh Buya Hamka untuk memilih antara tetap menjadi pegawai negeri atau menjadi anggota partai.  Maka,  ketika itu disampaikan kepada istrinya,  Siti Raham hanya berkata kepada suaminya untuk tetap menjadi Hamka saja.

Di sepanjang hidupnya menjadi seorang istri ulama besar,  Siti Raham amat teliti dalam menjaga kehormatan suaminya yang telah menjadi milik masyarakat.  Maka,  sepeninggalnya,  Buya Hamka teramat kehilangan sosok istrinya itu.  Bahkan hasrat menulisnya hilang. Buya hanya membaca Al-Qur'an sambil meneteskan air mata. 

Siti Raham, sosok penting dari seorang yang luar biasa. Para istri bisa membaca kisahnya dan meneladaninya.

*Penulis, tinggal di Gresik

sumber gambar: minews.id


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search