Kualitas atau Kuantitas?

- Juni 07, 2020

Oleh Aisy 

Kita seringkali tertipu ketika melihat capaian angka-angka yang telah membumbung tinggi. Merasa bahwa banyak sekali pengalaman berharga yang telah kita lalui, mulai membanggakan diri dan merasa sudah paling ahli. Padahal semua itu nyatanya hanya sebuah fatamorgana yang terbingkai rapi dalam portofolio kehidupan yang tengah kita jalani.

Andai perlahan kita mau mencoba membuka diri, mengevaluasi segala hal yang telah terlewati. Apakah semuanya sudah kita ikhtiarkan dengan sepenuh hati? Atau hanya sekedar melakukannya saja asalkan kewajiban telah gugur terpenuhi?

Terkadang kita memang perlu sesekali mengevaluasi kinerja diri kita sendiri. Apakah kita telah mampu memberikan hak pada hati untuk senantiasa mengoreksi? Capaian angka-angka itu tidak akan ada habisnya jika kita terus ingin menuruti. Tetapi apakah semua hal itu sudah sesuai dengan tujuan awal yang ingin kita datangi?

Itulah dilema yang umumnya terjadi dewasa ini, ketika laju kuantitas tidak berjalan lurus dengan kualitasnya. Sesuatu dengan jumlah banyak belum tentu bagus, sedangkan bagus tidak selalu harus berjumlah banyak. Mungkin ada sebagian orang yang mampu menjalankan keduanya secara beriringan, tetapi sangat jarang bahkan hanya bisa kita hitung dengan hitungan jari. Takaran itu kita sendiri yang mampu menentukan, ingin menjadi orang yang lebih memprioritaskan sisi kualitas atau hanya kuantitas saja?

Pada sebuah brand misalnya, kita terkadang mendengar produk "limited edition", barang itu teramat mahal dan menjadi incaran banyak orang yang ber-uang. Mengapa demikian? Ya, karena jumlah stoknya yang terbatas! Barang dengan kualitas terbaik sangat jarang diproduksi dalam jumlah banyak, itulah mengapa hanya orang-orang pilihan yang bisa memilikinya.

Kita pun manusia, mau tidak mau terkadang harus menjadi pilihan-pilihan tersebut. Bukan hanya kita yang bisa memilih barang berdasarkan quality or quantity. Tetapi tanpa disadari kita telah menjadi "target pasar" itu sendiri, kita seakan diminta untuk memilih menjadi manusia yang berkualitas atau menjadi manusia yang berkuantitas (manusia pada umumnya). Itu adalah pilihan yang hanya diri kita sendirilah yang mampu menentukan.

Jika pilihan kita ingin menjadi manusia yang berkualitas, tentu langkah hidup kita pun akan berbeda dengan perjalanan yang ditempuh oleh banyak orang. Mereka tidak menjalani kehidupan yang mudah sebagaimana yang diimpikan semua orang. Karena hidupnya penuh dengan dedikasi untuk terus membangun kualitas diri.

Manusia yang berkualitas adalah mereka yang selalu mau mengambil peluang, ketika semua orang lebih memilih tenang berada di zona nyamannya. Bukankah Einstein pernah berkata kita tidak akan mendapatkan hasil yang berbeda jika masih menggunakan cara-cara yang sama untuk meraihnya? Itulah yang menjadi pilihan hidup manusia berkualitas, mereka memilih menjadi berbeda meski sedirian daripada mengikuti trend yang kini sedang diminati banyak orang.

Saya pun sebagai pendidik kerap kali menemukannya saat melakukan proses menghafal Al-Qur'an bersama anak didik saya. Kami seakan selalu berada pada dua pilihan sulit. Menuntaskan hafalan dengan kualitas yang baik, meski jumlah hafalan yang mereka dapatkan sedikit. Atau membiarkan mereka berlomba memperbanyak hafalan meski bacaan dan ingatan mereka akan Al-Qur'an belum mutqin (kuat). Sebagai pendidik tentu kita semua memimpikan anak didik yang mempunyai jumlah hafalan banyak pun kuat dalam mengingatnya. Tetapi tentu saja tidak semudah itu mendapatkannya, butuh komitmen yang kuat, waktu yang tidak sebentar dan kesabaran yang luar biasa luas dalam meraihnya.

Itulah mengapa ketika kita telah memutuskan untuk memprioritaskan kualitas di atas kuantitas, kunci utama yang harus kita miliki adalah mau bersabar dan berproses. Tidak ada sesuatu yang dikerjakan secara instan memiliki kualitas sehebat karya yang telah dikerjakan bertahun-tahun lamanya. Tidak ada kesuksesan yang abadi jika kita tidak mau berproses sebelumnya. Itulah alasan mengapa orang-orang yang berkualitas adalah mereka yang mampu berdamai dengan keadaan dan bersahabat dengan waktu yang tidak sebentar. Karena kehidupan telah mmpu menguji mental baja mereka dalam melalui setiap ujian yang datang.

Maka akhirnya semua keputusan itu kembali pada diri kita sendiri. Jika kita  memilih menjadi manusia yang berkualitas, artinya kita telah berkomitmen untuk menjalani kehidupan yang penuh proses, pembelajaran dan senantiasa mau berlajar dari kegagalan. Karena sekali lagi tidak ada kehidupan berkualitas yang didapatkan dengan cara-cara instan tanpa perjuangan.

*Penulis tinggal di Gresik


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search