Surat Cinta untuk Umat Manusia

- Mei 22, 2020
Oleh Aisy 

Setiap manusia yang terlahir di dunia, tentu membawa misi mulia dalam hidupnya. Hanya saja mungkin tidak semua orang mampu menyadarinya. Misi itu adalah fitrah murni yang Allah turunkan kepada hamba-Nya. Fitrah menghamba, fitrah ingin bahagia, fitrah ketenangan jiwa dan fitrah yang membentuk nalurinya menjadi manusia.

Allah tak biarkan kita berjalan dalam kebutaan tanpa tujuan. Seluruh makhluk ciptaan-Nya telah diberikan bekal untuk menjalani kehidupan. Petunjuk itu tertuang pada buku panduan yang "seharusnya" semua manusia miliki dan mampu mengambil setiap pelajaran.

Buku itu milik hati orang-orang yang tenang. Orang yang mau menghamba dalam sunyi, pun dalam keramaian. Orang-orang yang mau membaca dan mau menjadikannya sumber keteladanan. Kita sebagai umat Muhammad telah memiliki Al-Qur'an. Tetapi sejauh mana hubungan kita dengannya, itu adalah pertanyaan yang hanya diri kita sendirilah yang bisa memberikan jawaban.

Al-Qur'an sesungguhnya selalu menjadi pelita dalam kegelapan, penjawab semua pertanyaan dan penenang bagi hati yang bimbang. Hanya saja manusia terlalu banyak memilih referensi rujukan yang sebenarnya justru jauh dari makna kebenaran. Petunjuk-Nya selalu jelas jika kita mau menjadikannya sebagi sebaik-baik tempat berkawan.

Pernahkah pertanyaan datang dalam diri kita? Apa yang membuat kita mau melangkah setiap harinya? Mengapa kita hidup dan untuk apa kita hidup? Akan kemana kita beranjak setelah kehidupan menemui ajalnya?

Segala perenungan yang memunculkan jawaban logika tak akan pernah bisa menjawabnya. Karena hanya manusia yang mengenali Tuhannya-lah yang mampu mengetahui hakikat dirinya diciptakan. Bagi saya yang masih belajar dan terus butuh banyak belajar, Al-Qur'an bukan hanya penguat di kala diri terasa lemah. Tapi dia adalah sebaik-baik tempat kembali, ketika diri seakan tak mampu menemukan kesejatian hakikatnya lagi.

Bukan Al-Qur'an yang memiliki kekurangan, tetapi diri kitalah yang selalu merasa tidak pernah berkecukupan. Allah tenangkan kita dengan Al-Baqarah-Nya manakala setiap ujian datang bertubi tak peduli betapa pun berat beban ini. Allah hadirkan diri-Nya pada hamba-hamba pendosa yang telah berputus asa dalam harap penuh sia. Allah jadikan kalam-Nya sebagai penenang pada sempitnya rizeki yang menghimpit hamba fakir dalam sunyi. Semua itu ada dalam bait syahdu Al-Qur'an yang lama tak terjamah karena kekhilafan diri.

Seorang kawan yang saya cintai karena-Nya pernah berpesan "sebaik-baik buku bacaan adalah Al-Qur'an, maka jadikanlah dia bahan rujukan setiap kali dirimu mulai membuat tulisan". Tiada kebenaran yang dapat disangkal, jika itu bersumber dari Al-Qur'an. Tiada kesalahan yang dapat dibenarkan, jika Al-Qur'an sudah menuliskan demikian. Lalu hendak ke mana kau cari hakikat diri yang sejati jika mushafmu yang mulai berdebu masih lalai kau datangi?

*Penulis, tinggal di Gresik

sumber gambar: liputan6.com


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search