Muslim Pertengahan

- Mei 25, 2020

Oleh Fie

Apa yang dimaksud dengan muslim pertengahan, atau muslim abu-abu? Dalam sebuah buku yang berjudul "Bersiul di Tengah Badai" karya Prof. Dr.Moh. Ali Aziz, M.Ag, menyebutkan bahwa muslim pertengahan atau muslim abu-abu itu adalah "Satu kelompok umat yang jelas kekafirannya dan kelompok lainnya sangat jelas keimanannya. Disebut sebagai kafir, tidak, karena melafalkan syahadat dan melaksanakan shalat. Disebut beriman juga tidak, karena keimannya tidak tercermin pada kepribadian dan tingkah laku kesehariannya".

Muslim Pertengahan adalah diri kita sendiri. Diri kita yang seringkali terbiasa dengan perbuatan yang tidak baik. Perbuatan yang mungkin ketika melakukannya, kita tidak menyadarinya. Bisa juga, perbuatan itu dilakukan ketika pagi hari berbuat baik, lalu pada malam hari kita berbuat dosa. Atau justru kebalikannya. Bahkan bisa seperti berdzikir di malam hari, dan berbuat dosa di siang hari.

Dalam Al-Qur'an telah disebutkan, surat Al-Fathir ayat 32, muslim abu-abu atau disebut muslim pertengahan (al-muqtashid), yaitu orang-orang yang kebaikannya berbanding seimbang dengan dosanya.

Artinya: "Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu diantara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, dan diantara mereka ada yang pertengahan, dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar." (QS. Al-Fathir: 32)

Lalu bagaimana kita bisa keluar dari bayang-bayang sebagai muslim pertengahan? Allah menjadikan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna diantara semua makhluk-Nya. Tentu saja, dengan adanya akal, maka setiap perbuatan kita, seyogyanya lah mengandung unsur-unsur kebaikan. Berpikir sebelum berbicara, sebelum  bertindak dan bertanggung jawab atas semua perbuatan yang telah dilakukan  dan kata-kata yang sudah terucap.

Allah menuntun kita dan memberikan kita petunjuk. Menyeru kepada kita, seluruh makhluk-Nya, berharap agar kita sebagai muslim pertengahan segera mengubah diri menjadi muslim putih. Muslim yang selalu melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.

Dengan cara selalu bertaubat kepada-Nya. Memohon ampun atas semua dosa-dosa yang telah kita lakukan. Ingatlah bahwa Allah "Sungguh, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". Maka, janganlah berkecil hati. Jangan pernah berputus asa akan rahmat-Nya. Allah tidak akan pernah meninggalkan hamba-Nya dan Allah pasti akan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya, selama kita mau dan benar-benar ingin bertaubat.

Taubatan Nasukha. Setelah itu, perbanyaklah melakukan kebaikan. Karena perbuatan kebaikan itu bernilai ganda, mendapatkan pahala dan menghapus dosa. Semoga kita termasuk hamba-hamba Nya yang selalu bertaubat. Sehingga kita bisa masuk dalam golongan muslim putih. Aamiin...Ya Rabb.

*Penulis, tinggal di Gresik


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search