Matinya Sebuah Empati

- Mei 19, 2020

Oleh Siti Aisah Aziz*

Kemarin sore berita duka kembali datang. Seorang perawat yang tengah hamil empat bulan, berpulang setelah beberapa hari dirawat dan gagal napas di rumah sakit tempatnya bekerja. Senin siang wanita muda tersebut resmi menjadi pahlawan Corona yang gugur atas segala dedikasi pekerjaan yang telah dilakukannya. Berita ini datang dari kota tetangga yang kini juga sedang melakukan kebijakan PSBB seperti halnya di daerah saya: Kota Surabaya.

Seakan tidak pernah habis cerita yang ingin dikabarkan oleh negeri ini. Setelah awal tahun disapa dengan banjir yang sepertinya belum bosan menyambangi ibu pertiwi, kini kita harus kembali berjibaku dengan masalah baru melawan pandemi. Sayangnya segala rencana seakan dilakukan tanpa perencanaan yang matang. Pemerintah dengan segala aturan "langit" yang enggan "melihat" ke bawah dan masyarakat dengan segala kebutuhannya tetap "dipaksa" harus berada di rumah.

Hal semacam ini akhirnya tidak berjalan lama. Masyarakat perlu makan untuk bertahan, bukan hanya perihal berdiam diri di rumah, namun bantuan tiada jua didatangkan. Parahnya lagi pada orang-orang yang tidak mau berada di rumah lalu berkelakar atas nama kebosanan. Saya mencoba memahami lewat sudut pandang manapun, pendapat mereka tidak pernah bisa dibenarkan.

Para nakes yang berjuang kini enggan disebut sebagai garda terdepan, karena bagi mereka garda terdepan adalah diri kita sendiri. Mereka berlepas diri dari label "pahlawan" karena di sini kita semua sama-sama saling berjuang. Menahan lapar, dahaga dan hajat lain pun rela tertunda demi sebuah tugas mulia menyelamatkan korban. Namun sayangnya tidak semua orang  memahami apa arti berjuang dalam kebersamaan.

Hati menangis rasanya jika melihat orang yang mengatasnamakan kepentingan pribadi, lalu mengorbankan semua orang yang kini berjuang melawan pandemi. Empati seakan menjadi suatu yang mahal bersama melambungnya nilai dolar yang kini menjadi "alasan" perekonomian harus tetap berjalan. 

Entah akan dibawa ke mana "nasib" bangsa ini melawan Corona. Haruskah gugur beribu korban lagi untuk kita semua bisa mulai memedulikan sesama? Data yang naik signifikan setiap hari sesungguhnya bukan angka statistik semata. Seluruh bilangan ratusan angka itu adalah satuan dari mayat manusia. Bukankah diri kita pun juga manusia yang bernyawa? Lalu mengapa seorang manusia tidak memiliki empati untuk manusia lainnya?

Semoga kita bukan termasuk orang-orang yang menyesal di saat semua sudah berakhir pada kesia-siaan. Dan kepada kalian yang di luar sana masih saja mampu memandang mudah dan meremehkan, semoga Tuhan tidak memberikan jalan pada Corona untuk menemukan diri atau keluarga kalian. Karena orang yang merugi adalah orang yang telah diberikan banyak peringatan, tetapi mereka selalu enggan untuk mengambil pelajaran dan acuh pada setiap kejadian.

*) Penulis, tinggal di Gresik


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search