Hidup Adalah Tentang Proses, Bukan Hasil

- Mei 30, 2020

Oleh Aisy 

Setiap manusia tentu menginginkan pencapaian gemilang dalam hidupnya, menjadi manusia yang dipandang sukses dan berhasil dengan segala prestasinya. Namun apakah kita pernah sedikit berempati atas hal apa saja yang telah ia lalui dalam kehidupannya?

Nyatanya orang lain hanya mampu melihat keberhasilan, tanpa mau tahu jatuh bangun yang dihadapi seseorang dalam menempuh perjalanan panjang. Tidak ada sesuatu yang besar didapat dengan cara instan, jika begitu artinya kita tidak menempuh cara-cara yang benar dalam mendapatkan kesuksesan.

Kehidupan adalah tentang bagaimana kita berproses, dengannya nanti kita akan menghargai setiap hasil yang kita dapatkan. Bukankah akan sangat terasa berbeda rasanya, ketika kita mendapat prestasi atas tingginya nilai ujian setingkat provinsi dari hasil belajar sendiri dan hasil curang memakan hak teman? Akan sangat berbeda ketika kita mendapat hasil dari kerja keras dan keringat sendiri dengan hanya menikmati pemberian.

Proses adalah hakikat manusia diciptakan. Dan hasil adalah hak Allah untuk menentukan. Fluktuasi roda kehidupan ini sesungguhnya selalu dipergilirkan, oleh karenanya hasil adalah mutlak kehendak-Nya menilai setiap usaha dan proses yang telah kita lakukan. Hanya saja yang nantinya membedakan adalah bagaimana kita mendapatkannya, memilih berkecimpung dengan kecurangan atau justru bergelimang keberkahan. Allah dengan bebas membiarkan kita menentukan pilihan. Maka jadikan sabar dan ikhlas sebagai satu-satunya jalan agar hati kita senantiasa dipenuhi kelapangan.

Saya pun masih sangat perlu belajar menghargai setiap proses yang kehidupan hadirkan dalam setiap sendi perjalanan saya mengarungi samudera impian. Meski berderai air mata dan bermandikan darah, namun menyerah tetap bukan pilihan. Allah berikan kita porsi yang sama dalam kehidupan, setiap manusia tentu mempunyai tekat untuk ingin berjuang. Hanya yang membedakan adalah sekuat apa tekat itu diperjuangkan menjadi sebuah kenyataan.

Sebagai seorang yang masih belajar menjadi seorang guru, seyogyanya saya pun harus terus berguru. Berguru pada setiap jengkal proses kehidupan saya, liku kehidupan orang di sekitar saya bahkan kehidupan anak didik saya di sekolah. Akan sangat zalim jika saya hanya menghargai mereka yang berhasil, tetapi melupakan mereka yang bekerja keras dalam berproses. Setiap anak tentu ingin diakui perjuangannya, namun begaimana cara kita membuatnya tak menyerah meski belum berhasil di langkah pertama dalam belajar, itulah tugas kita.

Maka jika sebagai seorang guru saya belum mampu mengondisikan diri untuk menghargai setiap terpaan proses yang hadir dalam kehidupan saya, bagaimana saya mampu membesarkan hatinya untuk tidak menyerah pada kekalahan yang sementara?

Bukankah Islam pun telah mengajarkan demikian? Melalui kisah manusia termulia yang diutus-Nya untuk membawa pedoman kehidupan. Apakah para Nabi senantiasa mendapat hasil atas proses perih, sakit, caci maki yang mereka terima dari umatnya? Tidak! Butuh bertahun-tahun hingga berabad-abad lamanya. Lalu apakah Allah menghakimi mereka atas ketidakberhasilan itu? Tidak pula. Allah melihat proses mereka melapangkan dada dalam menerima segala kehendak-Nya. Sesungguhnya hasil bukanlah hak mereka dalam menentukan, tugasnya adalah menyebarkan ajaran dan perintah-Nya. Selebihnya, hak Allah dalam memberikan hidayah pada manusia pilihan-Nya.

Perkataan seorang dosen yang alim terus terngiang di pikiran saya. Perihal nilai kami di KHS (Kartu Hasil Study) yang mendapat nilai B setelah melahap buku-buku kurikulum semalaman, namun hasil yang didapat justru tak sesuai keinginan. Apa yang beliau katakan untuk menguatkan kami, mahasiswanya? Beliau mengatakan dengan lantang, "Jangan khawatirkan hasil, proses yang kalian semua lakukan itu tidak akan pernah sia-sia di mata Tuhan. Mungkin kalian melakukan usaha 100, tapi hasil yang kalian dapat hanya 80. Lalu ke mana nilai 20 itu akan kalian temukan? Itu adalah "saving" yang nantinya kalian dapatkan di masa depan atau bahkan mungkin di akhirat. Maka jangan ada sesal setelah kalian lampaui proses bertumbuh yang teramat berat," tutupnya dengan begitu  bersemangat.

Perkataannya menyadarkan saya, betapa nanti hasil yang belum sesuai dengan usaha yang telah kita kerahkan itu, akan memudahkan langkah kita di masa depan. Atau menghapus dosa-dosa yang telah kita lakukan bahkan mungkin justru menjadi pemberat amalan.

Tugas kita sebagai seorang hamba yang memiliki iman adalah berproses sebagaimana ketentuan. Karena kita percaya kita memiliki-Nya yang Maha Berpengetahuan. Takkan lengah diri-Nya melihat proses dan usaha yang telah kita lakukan. Maka tetap berproses dan bertumbuh sudah selayaknya menjadi prioritas utama, sebelum kita menginginkan keberhasilan dalam kehidupan.

Self Reminder

"Kadang orang hanya bisa menilai pencapain demi pencapaian, mereka tidak pernah bertanya, "Kesulitan apa yang sudah kamu lalui sehingga kamu bisa berada pada tahap ini?" Karena yang kita lakukan saat merasa sulit bukanlah mengeluh, tetapi mengembalikan semuanya pada sang mahapemberi solusi terbaik.

Akhirnya saat kita berhasil melaluinya, kita hanya akan membagi kebahagiaan yang sudah berhasil kita raih.

Maka jangan anggap jalanmu paling sulit, karena sungguh setiap orang yang sudah berhasil, pernah melaluinya. Hanya saja kamu tidak tahu keadaannya saat berjuang, dan yang dia tunjukkan padamu sekarang hanyalah buah manis atas perjuangannya.

*Penulis, tinggal di Gresik


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search