Flavour Memory

- Mei 25, 2020

Oleh Mima Kareemah 

Makanan paling enak adalah makanan yang saat kau mengunyahnya, kau mengeluarkan air mata. Kau terharu saat memakannya.

Saya berhenti membaca sejenak. Mencoba menyusun kepingan kenangan, sudah pernahkah saya makan sambil menangis haru? Ah ya, saya pernah makan bakso mercon sambil berurai air mata. Menangisi kebodohan saya yang memutuskan pilihan level cabe yang kebablasan pedasnya.

Makanan paling enak bukanlah hidangan yang dimasak oleh seorang chef handal lulusan sekolah kuliner internasional. Tidak juga makanan yang kita beli dari sebuah tempat kuliner yang sedang viral yang bila ingin mencicipi menunya, kita harus berdiri mengantri berjam-jam saking larisnya. Ini tentang flavour memory. Makanan yang mampu membangkitkan sebuah kenangan di suatu masa. Nikmatnya makanan yang pernah kita rasakan di masa lalu ternyata akan terekam oleh otak. Kemudian, akan muncul kembali ketika kita menikmati rasa yang serupa. Kita akan teringat dengan momen saat menikmati makanan tersebut.

Saya menjadi ingat karakter Anton Ego dalam film Ratatouille. Seorang kritikus restoran paling terkenal di Perancis. Ia dikenal kejam dalam mengkritik makanan. Ia bahkan tak sudi menelan makanan sekelas restoran yang sudah masuk ke dalam mulutnya jika memang tidak ia suka. Namun, menu yang dihidangkan Remy, si chef tikus, mampu membuat hati Anton mencelos di suapan pertamanya. Cita rasa hidangan itu melemparkannya kembali pada kenangan di masa kecilnya. Makanan yang sama nikmatnya seperti yang pernah dibuat oleh ibunya dulu. Anton menghabiskan makanan itu dengan mata berkaca-kaca. Bukan soal lezatnya suatu makanan, tapi memori yang tak terlupakan di balik makanan.

Mungkin bagi mereka yang tinggal berjarak hingga ratusan kilometer dengan orang-orang terkasih, seperti orang tua, akan lebih mudah memahami apa itu flavour memory. Saat lebaran esok hari, bisa jadi banyak dari kita yang hanya bisa menahan rindu merasakan masakan ibu di rumah. Entah karena ibu telah berpulang mendahului, atau karena tak bisa pulang kampung sebab kondisi yang tak berpihak kepada kita.

Memang saya belum pernah menjumpai makanan yang bisa membuat saya menangis. Tapi bila bicara tentang kenangan, maka makanan paling nikmat di masa kecil saya adalah oseng tahu tempe. Tahu tempe yang dipotong dadu lalu digoreng. Ditumis bersama irisan bawang, cabe dan kecap manis. Emak memasak menu ini bisa 2 sampai 3 kali dalam sepekan. Bosan? Mungkin dulu iya. Tapi saat menjelang dewasa dan berkelana jauh dari rumah, menu sederhana ini seringkali saya rindukan. Beberapa kali mencoba memasaknya, namun belum bisa menyamai nikmatnya racikan emak.

Benar apa kata mbak Inul,
"Masakan emak, paling enak..." 🎶


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search