Bijak Kelola Angpao Anak

- Mei 25, 2020
Oleh Mima Karimah

Kemarin malam selepas mengantar zakat fitrah, gadis pertama saya sibuk menyiapkan beberapa keperluan lebaran. Pakaian baru disiapkan lalu kue-kue dikeluarkan dari tempat persembunyian. Mata saya mulai mengantuk terbuai suara takbir yang terdengar syahdu bersahut-sahutan.

"Umma, besok kalau Bubu dapat angpao, uangnya mau aku masukkan ke sini." Gadis kecil itu mendekati saya di kamar.  Tangannya sedang mengangkat galon kecil bekas air zamzam.

"Lebaran besok kita nggak kemana-kemana, Bubu dari mana dapat uang angpao?"

"Ya pasti tetap ada yang ngasih. Meskipun nggak banyak seperti biasanya. Kalau nggak ada, berarti Umma yang harus ngasih Bubu angpao." Saya hanya nyengir mendengar celotehnya. Tidak mau rugi rupanya dia. Siapa pula ini yang mengajari.

"Umma, nanti uangnya mau dibelikan apa ya enaknya?" lanjut dia.

Oalah Nduk, tak usah berharap lebih di tengah situasi yang sedang susah. Tak akan sama dengan lebaran yang sudah-sudah. Dampak pandemi ini sangat berpengaruh pada kesehatan ekonomi hampir tiap keluarga. Sudah bersyukur masih bisa merasakan lebaran bersama keluarga dengan kondisi baik-baik saja.

"Umma masa nggak tahu apa yang paling dibutuhkan Bubu?" Pertanyaannya seketika membuyarkan lamunan saya.

"Belikan sepatu atau tas saja."

"Nggak mau. Kalau beli sepatu dan tas, pakai uangnya Umma saja."

Makin pintar saja nih bocah. Tangannya sibuk memainkan tutup galon. Matanya terlihat menerawang memikirkan sesuatu.

"Yang penting rajin nabung dulu biar galonnya segera penuh. Nanti kita pikirkan lagi mau dipakai apa uangnya."

Diskusi kecil seperti ini memang biasanya kami lakukan menjelang lebaran. Merencanakan untuk apa uang akan dipakai agar tak ludes sia-sia. Ketrampilan mengelola uang sangat penting diajarkan agar ia tak tumbuh menjadi pribadi yang konsumtif. Terdengar sederhana tapi akan berdampak hingga dewasa kelak. Apalagi anak perempuan, wajib hukumnya karena esok ia akan menjadi manajer keuangan dalam keluarga. Beberapa bulan sebelum school from home diterapkan, saya mulai mencoba memberinya uang saku setiap pekan. Ia mulai belajar bertanggung jawab mengatur uang pribadinya. Memang belum berhasil sepenuhnya. Masih terus butuh pendampingan dan evaluasi secara berkala.

Tahun lalu mereka sepakat membeli seekor kambing kurban. Uang angpao dua bocah di rumah saya gabung, lalu menambahi kekurangannya. Kami hanya memberikan beberapa penawaran sekaligus menyebutkan plus minusnya. Si Bubu yang sudah kelas 1 SD lebih mudah diajak berdiskusi. Kalau si adik cenderung manut apa kata si kakak. Bocah empat tahun itu tak tahu menahu perkara uang. Setelah menerima amplop, biasanya langsung diberikan kepada saya. Ia belum mengerti betapa hebatnya kekuatan uang. Ia belum pernah saja menjumpai emak-emak yang stres menahan penat, seketika menjadi waras begitu mencium aroma uang.

Sebenarnya saya ingin menawarkan untuk membeli logam mulia saja. Menyiapkan bekal untuk dana pendidikan mereka. Tak masalah jika lebaran ini mereka hanya memperoleh angpao seratus atau dua ratus ribu, sebab dengan uang segitu pun sekarang sudah bisa memilikinya. Dulu saya sempat tergiur dengan tawaran asuransi pendidikan. Tapi alhamdulillah Allah memberi petunjuk melalui pengalaman beberapa kawan dan review para nasabah asuransi yang merasa tertipu dan kecewa. Sekarang mantap memilih menabung emas agar esok tak bingung dengan biaya masuk sekolah mereka.

*Penulis, tinggal di Gresik

sumber gambar: orami.co.id


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search