Ramadan Menyala; Antara Gresik dan Gaza

- April 26, 2020


Oleh Almaidatul Istibsyarah*

We will not go down in the night without a fight
You can burn up our mosques and our homes our schools
But our spirit will never die
(Michael Heart)

Selamat datang ramadhan bulan penuh ampunan
Selamat datang ramadhan bulan penuh ganjaran
Mari kita menyambut dengan hati gembira
Mari kita menyambut dengan hati bahagia
(Hadad Alwi feat Anti)

Gaza, Palestina
Jamal, bocah delapan tahun itu sedang duduk memandang puing-puing rumahnya yang baru saja melebur seketika bersama dengan datangnya paketan Israel yang dikirim secara ekspress melalui pesawat remotnya. Iya, pesawat yang bisa dikendalikan dari jarak yang sangat jauh itu seharusnya menjadi sebuah mainan yang sangat menarik bagi bocah seusia Jamal. Biji matanya menerawang ke atas langit yang sudah keruh oleh asap berbaur pasir. Masih ada beberapa pesawat yang beterbangan mencari sasaran sesuai perintah sang pengendali remot tersebut.

Gresik, Indonesia
Salman, bocah delapan tahun itu sedang berdiri di depan kaca lemari kamarnya. Ia mencoba gamis baru beserta pecinya yang baru saja didapatkan dari ayah untuk tarawih di masjid jami’ nanti malam. Sementara sebuah pesawat RC telah bertengger di atas sebuah bufet ruang tengah masih terbungkus rapi dalam kertas kado yang hanya boleh dibuka besok ketika Ramadhan habis. Di penghujung hari ‘Id, Salman diperkenankan membuka hadiannya jika tidak bolong puasa, sahur dan tarawihnya.

Gaza, Palestina

“Jamal, masuklah ke sini! Di luar berbahaya!” seru seorang wanita dari bawah reruntuhan rumah yang masih bisa digunakan untuk sekedar menutup badan dua manusia. Dirinya dan anaknya.
“Pesawat itu belum mau pergi, Ibu. Aku akan menunggunya.”
“Tidak. Esok adalah hari pertama Ramadan. Apa yang mesti kau persiapkan untuk menyambutnya?”
“Bukankah tadi telah aku sampaikan ibu, aku siap berpuasa meski tanpa sahur.”
“Tidak, Jamal. Ibu akan mencarikan makanan nanti malam untuk sahurmu.”
“Ibu tidak perlu repot. Bukankah aku anak yang kuat.”
“Sahur itu sunnah nabi kita, Jamal. Bukan masalah kuat dan tidak. Meski hanya sebiji kurma atau seteguk air. Kita sudah menjalankan sunnah nabi tercinta.”
Bocah itu tersenyum ia kemudian masuk menuju kolong reruntuhan di mana ibunya sedang sibuk membersihkan mushaf yang masih selamat.
“Ini mushafmu, tambahlah hafalanmu! Ramadan adalah bulan terbaik dalam mentarbiyah diri seseorang. Semoga kau berhasil melewatinya.”
“Semoga ibu juga.”

Gresik, Indonesia

“Ibu sudah menyiapkan seluruh keperluan kita selama bulan ramadhan. Ibu juga sudah belanja baju baru untuk keluarga kita. Jadi, selama ramadhan kita bisa fokus beribadah. Apa targetmu di Ramadan tahun ini, Salman?”
“Aku ingin khatam 30 juz, Ibu.”
“Barakallah. Semoga Allah mudahkan. Berarti sehari Salman harus menyelesaikan tilawah 1 juz.”
“Benar, Ibu. Oiya, Bu. Lauk untuk sahur Salman nanti apa?"
“Tenang sayang. Ibu sudah menyiapkan lauk favoritmu. Udang goreng spesial sudah siap dalam freezer. Nah, banyak juga camilan-camilan frozen kesukaanmu. Salman tinggal fokus beribadah. Oke!”
“Alhamdulillah. Terimakasih ,Ibu.”
Ibu menunjukkan jarinya kepada ayah yang sedang duduk melihat televisi di ruang tengah.
“Terimakasih, Ayah.”

Gaza, Palestina

Petang mulai membungkus pelataran di bawah langit yang keruh. Ia menjemput malam yang tak seramai hari lalu. Bahkan, adzan yang dibunyikan dengan suara manual hanya terdengar sayup terkalahkan oleh deru suara pesawat yang masih dimainkan empunya, di atas sana.

Jamal dan ibunya bergegas mencari jalan menuju keramaian yang telah digelari karpet-karpet sisa penduduk yang selamat dari gemburan. Para penduduk itu merapatkan shaf-shaf sholat sesuai dengan barisan muslim muslimah. Jamal harus berpisah dengan ibunya.

“Pergilah! Cari shaf terdepan, anakku.”
“Baik, Ibu.”
“Nanti kita bertemu di tempat ini. Kau harus mengingatnya!”

Bocah itu mengangguk dan segera menuju shaf muslim dibagian depan. Sementara ibunya tetap berada dalam shaf perempuan dibelakang mereka. Isya dan tarawih telah berlangsung dengan khidmat. Seorang syaikh memimpin shalat dan memberikan tausiyah tentang semangat membara dalam menjemput kemenangan selama bulan Ramadan dalam kondisi segenting apapun. Jamal memahami maksud yang disampaikan oleh syaikh tersebut. Meskipun Israel tak pernah merelakan ia dan saudara-saudaranya di bumi Gaza hidup dengan tentram dan aman, Ramadhan tak boleh terbengkalai oleh hal tersebut. Jamal kembali tersenyum. Setelah usai jama’ah ia akan menyetorkan hafalannya kepada syaikh Nu’man yang telah disiapkannya sore tadi selepas ashar.

Gresik, Indonesia

“Kita berangkat sekarang, Bu. Ayo Salman!” ajak ayah sambil menyiapkan mobil sedannya keluar halaman. Mereka bertiga berangkat menuju masjid Ahmad Dahlan yang berada di sebelah barat terminal Gresik. Salman menggunakan gamis baru hadiah dari ayah. Sementara Ibu mengenakan mukena dengan rapi dan harum. Begitu juga ayah, ayah mengunakan koko terbaiknya untuk menjalankan ibadah isya dan tarawih.

Mereka khusyu’ dipimpin oleh seorang hafidz dari pesantren Isy Karima. Seorang santri muda yang suaranya merdu hingga membuat jamaah terkesima. Tepat pukul sembilan usai sudah jamah sholat. Selanjutnya seorang ustadz akan menyampaikan tausiyah tentang pentingnya Ramadan dan apa saja yang seharusnya disiapkan oleh seorang hamba dalam menjalankan ibadah Ramadan agar mendapatan kemenangan yang nyata.

“Hawa nafsu adalah seburuk-buruk musuh yang akan menjadi penghalang kesuksesan seseorang dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadan. Meskipun target selama Ramadhan telah jelas kita tulis dan kita jalankan dengan baik belum tentu kemenangan itu bisa kita raih.” Ustadz berceramah. Ia pun melanjutkan, “Jadi, yang utama dalam menjalankan ramadhan kita adalah perbaiki niat setiap saat, setiap kita akan memulai setiap ibadah. Karena hawa nafsu itu ibarat seekor hewan liar yang setiap saat harus kita tali, kita kendalikan agar tidak sampai merusak niat kita. Niat hanya karena Allah semata.”

Salman yang duduk bersebelahan dengan ayahnya mulai mengangguk-angguk kepalanya karena menahan kantuk.

“Salman, ayo bangun. Ada kue dan minuman segar di ujung sana. Kamu bisa mengambilnya untuk menghilangkan kantukmu.”
“Salman ngantuk berat, Ayah.”
“Iya, sebentar lagi selesai tausiyahnya. Maklum ini kan malam pertama Ramadaan.”

Salman akhirnya berdiri. Ia berjalan menuju ujung masjid dan mengambil beberapa snack dan minuman. Tiga puluh menit kemudian setelah tausiyah diakhiri, merekapun bergegas pulang dan beristirahat dalam kamar masing-masing dengan ditemani AC yang dingin dan selimut yang nyaman. Mereka segerakan tidur agar tak melewatkan sahur sebagaimana menjadi anjuran sang nabi SAW.

Gaza, Palestina

Dua jam berlalu, Jamal berhasil menyetorkan lima halaman hafalan barunya kepada syaikh Nu’man. Malam pertama ramadhan menjadi malam terbaik untuknya karena teman lainnya hanya mampu menyetor 2-3 halaman saja. Jamal merasakan bahagia yang luar biasa. Awal yang baik, batinnya.

Bising pesawat di langit masih belum juga kembali pada empunya. Nampaknya benda-benda yang mengangkasa itu masih ingin memburu beberapa teroris yang tergabung dalam HAMAS dan para gerilyawan lainnya yang dianggap Israel sangat berbahaya. Sepertinya anak-anak Palestina selain Jamal telah terbiasa dengan suara bising tersebut. Hingga akhirnya sebuah dentuman keras memborbardir tempat sekitar lima meter dari tempatnya duduk menghafal kalam-kalam suci Illahi. Iya, tempat dimana shaf perempuan itu berada.

Jamal terkejut. “Ibu!” ia segera beranjak dan berlari mencari wanita yang telah menunggunya dengan sabar dan penuh harap agar anaknya mampu melewati ramadhan dengan baik dan mendapatkan kemenangan yang dijanjikan Tuhan.

“Ibu!” Jamal terus memerika wajah yang yang telah terkapar jasadnya. Dan ia telah menemukan ibunya.
“Ibu,” airmata bocah itu tentu tak lagi mampu ditahannya.
“Jasad ibunya tergeletak dengan senyum dan ternyata ia masih bisa berucap lirih.”
Jamal mendekatkan telinganya.
“Ini makanan untuk sahurmu, anakku.”

Tangan wanita itu bergerak tak berdaya. Menggenggam dua potong roti yang baru saja diterimanya dari temannya. Jamal memeluk erat ibundanya untuk yang terakhir kalinya.

*Penulis adalah Kontributor di smile.web.id


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search