Menulis untuk Abadi

- April 20, 2020

Oleh Sri Wahyuni*

Menulislah, maka engkau akan hidup abadi (Buya Hamka)


“Ya, aku bakal dibaca!” kata Multatuli dalam Max Havelaar

Keinginan saya untuk menulis, pada awalnya hanya suka saja. Suka menulis curhat di buku diary. Sekadar menyalurkan hobi Kegemaran saya membaca membuat saya terdorong untuk iseng mengirimkan tulisan. Hampir saja tidak jadi karena kurang pede. Akhirnya tahun 2000, saat saya hamil pertama tiga bulan, saya mencoba memberanikan diri. Selesai mengajar, sambil menunggu jemputan suami, saya meminjam laptop di KMI Ar-Risalah untuk mengetik. Materi yang saya pilih adalah kisah di nukilan Tarikh Suara Muhammadiyah, “Keteguhan Seorang Istri”. Saya menerjemahkannya ke Bahasa Inggris. Waktu menulis, ada Ustadzah Nurul Laila dan Nur Syamsiyah yang menemani. Saya pede saja karena mereka lebih paham Bahasa Arab daripada Bahasa Inggris. Hehe.

Pada Juli 2001, adik saya mengucapkan selamat. Tulisan saya dimuat. Saya baru percaya ketika dia menyodorkan sebuah majalah Annida dan Wesel Pos nominal Rp. 84.000,00. Waktu itu harga emas sekitar seratusan ribu rupiah.

“Horee…!” Saya kegirangan. “Tulisanku dibaca orang banyak…!”

Semua orang rumah saya beritahu: ayah, ibu, termasuk suami saya.

Saya berpikir, "Menulis gitu aja dapat uang lumayan, bagaimana jika rutin tiap bulan?” Hahaha!


***
Ketika mengikuti talk show kepenulisan di DOM Universitas Muhammadiyah Ponorogo, niat saya untuk menulis semakin menjadi. Saat itu Mbak Afra, salah satu narasumber mengatakan bahwa kita harus mempunyai cara cerdas untuk mendapatkan pahala walau kita sudah meninggal dunia. Salah satunya adalah dengan M E N U L I S. Manakala tulisan kita dibaca dan menginspirasi seseorang untuk lebih positif, bermanfaat, tercerahkan, InsyaAllah termasuk ilmu yang bermanfaat. Bisa juga menjadi shadaqah jariyah. Bisa jadi dari tulisan kita yang sederhana itu menjadi sarana untuk masuk surga. Subhanallah!

Bukankah saat kita meninggal nanti, tidak ada lagi pahala salat, zakat, puasa, dan perbuatan lain yang bisa kita lakukan? Hanya ada tiga: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan kedua orang tuanya. Dalam lagunya, Opik pun melantunkan liriknya, "Bila waktu tlah berlalu, teman sejati hanyalah amal.”

Lalu bagaimana agar tulisan kita disukai orang? "Menulislah dengan hati,” begitu kata Rafif Amir. Beliau salah satu penulis muda asli Madura yang sudah naik daun.

“Sesederhana apa pun yang kita tulis, jika dengan hati yang tulus InsyaAllah akan menginspirasi.” Dengan tulisan, kita mempunyai prasasti yang bisa terus menerus dibaca orang walau kita sudah tiada. Maka abadilah hidup kita sebagaimana mutiara kata yang ditulis oleh Hamka tersebut.

Bagaimana jika sudah menulis dengan hati, namun tidak banyak yang like? Ernest Prakarsa, salah satu produser film ternama Indonesia pernah menulis quote di IG-nya, "Teruslah Berkarya!” Di situ dia menjelaskan, andai hanya satu orang pun yang like dan mampu menjadikannya lebih baik, itu jauh lebih penting dari ribuan yang like namun berlalu begitu saja.

Bagaimanakah kualitas membaca dan menulis rakyat Indonesia? Negara kita rangking ke-62 dari 70 negara yang disurvey (PISA, 2015). Bahkan menurut Central Connection University (CCSU) negara kita menempati ranking ke-60 dari 61 negara yang disurvey (Kompasiana.com, 20 Oktober 2019). Bisa dikatakan, negara kita darurat literasi!

Dalam bukunya “Menggenggam Dunia”, Gol A Gong menjelaskan bahwa Jepang menerbitkan 65.000 judul buku setiap tahun. Indonesia baru 10.000 judul dengan penduduk yang berlipat sekian kali penduduk Jepang. Sedangkan Inggris 110.000 buku. Hampir semua orang di negeri tersebut suka menulis. Apa pun yang kelihatan remeh-remah, misalnya bagaimana cara hidup yang sehat, membersihkan rumah, selalu membuat mereka tergerak untuk menuliskannya. Karena menulis adalah hak setiap orang, bukan hanya penulis ternama.

Menulis juga kebiasaan orang-orang hebat. Lihatlah, hampir semua orang hebat menulis sebuah buku. Ingat almarhum Bapak Prof. Ing. B.J. Habibie? Beliau menuliskan kisahnya setelah istri beliau tercinta meninggal. Bahkan buku tersebut diangkat ke layar lebar bertajuk "Habibie Ainun.” Dengan menulis, beliau bisa mengurangi kesedihannya. Amazing, bukan?

Tanpa kita sadari sebenarnya setiap kita ada bakat untuk menulis. Coba saja kita tengok status kawan di WA atau FB. Itu sudah cukup bukti bahwa menulis itu mudah. Hanya jumlah kalimatnya saja yang perlu kita tambah. Apalagi disertai foto, lebih mudah untuk mengekspresikan tulisan kita. Lebih mengalir. Bila tiap hari kita menulis 1 halaman, dalam waktu dua bulan bisa mencapai 50-60 halaman. “Sudah menjadi satu buku,” kata Rafif Amir lagi.

Pernah mendengar nama Riri Abdillah? Penulis muda asal Magetan itu mengumpulkan ceceran tulisannya di blog dan IG. Ketika diterbitkan dalam sebuah buku “Menantimu di Ujung Rindu” , menjadi best seller. Bahkan sampai saat ini terus cetak ulang! Dengan hanya di rumah saja royaltinya sudah ratusan juta. Tentunya semua itu dengan penuh kesungguhan. Wonderfull, bukan?

Saya pribadi juga masih dalam tahap belajar. Namun dorongan untuk berbagi kebahagiaan ini rasanya juga tidak bisa terbendung lagi. Hehehe. Karena berbagi itu indah, ya nggak? Nah, mumpung sekarang lagi Stay at Home, neng ngomah wae, ayolah friends kita saling berbagi ilmu dan pengalaman. Masih ragu? Ayo, kita mulai saja dari sekarang! Buruan, daripada ide kita diambil orang! Hehehe.

*Penulis, Aktivis FLP Ponorogo


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search