Konspirasi Virus

- April 18, 2020

Oleh Rafif Amir

Umat terbelah dua. Yang mengikuti anjuran MUI dan yang menentangnya.

Terjadi diskusi yang menarik di beberapa grup antara dua kubu ini. Saya berada di kubu pro fatwa MUI. Sederhana saja, karena saya bukan mujtahid. Kedua, karena saya melihat kuatnya dalil yang dikemukakan. Ketiga, saya melihat banyak celah kelemahan argumen di pihak yang kontra.

Saya akan coba membedahnya.

Setelah saya amati, penentang fatwa MUI sebagian adalah "penganut" teori konspirasi. Menurut mereka, virus SARS CoV-2 adalah senjata biologis yang sengaja diciptakan untuk memusnahkan manusia.

Saya bukan orang yang tak percaya dengan teori konspirasi. Bahkan saya mempelajarinya. Konspirasi jelas ada. Bahkan seringkali kita tidak sadar menjadi korban konspirasi. Data-data pribadi yang kita setor lewat aplikasi, adalah bagian dari konspirasi untuk perang asimetris. Kita bahkan tidak sadar dijadikan proksi untuk propaganda perang informasi.

Jadi, konspirasi memang selalu ada. Tapi andai kata, virus ini memang konspirasi, apa faedahnya dibahas saat ini? Apakah tiba-tiba virus jadi lenyap dari muka bumi? Apakah Amerika dan China tiba-tiba berhenti bertengkar dan kita diberi uang saku bulanan?

Kenyataannya: virus telah membunuh banyak orang di dunia. Ratusan ribu orang!

Fatwa MUI tidak ada hubungannya dengan konspirasi. Anjuran shalat di rumah tidak diputuskan berdasarkan hawa nafsu, melainkan ilmu. Semua jelas dalilnya.

Tapi orang-orang yang kontra itu juga membawa dalil. Yang setelah diteliti ternyata hadis-hadis dhaif dan palsu.

Mereka juga mengatakan bahwa orang-orang Eropa justru berbondong-bondong ke masjid, ada yang sembuh setelah shalat di masjid. Saya minta sumbernya yang valid satu, jika memang ada. Kenyatannya di Indonesia, kita saksikan sendiri, puluhan jamaah JT di Kebon Jeruk justru positif tertular covid-19. Mereka dikarantina di masjid, setelah ngeyel tetap mengadakan shalat, dan ternyata ada jamaah yang positif.

Jamaah Tabligh menyumbang kasus positif yang besar akibat kengeyelannya itu. Kasus di Malaysia, di India, di Sulawesi, dan di Kebon Jeruk. Yang diserukan, "Kita hanya takut Allah, gak takut virus." Seolah-olah mereka yang mengikuti fatwa MUI, imannya jauh di bawah mereka.

Argumen lain yang dikemukakan oleh yang kontra: dulu tidak ada larangan ke masjid, termasuk ketika ada wabah lepra.

Bagaimana mungkin Covid-19 diqiyaskan dengan lepra? Setiap penyakit punya karakteristiknya. Dan penaganannya bisa berbeda. Termasuk produk fatwa yang mungkin dikeluarkan. Jika Covid-19 seperti flu biasa, saya yakin tidak akan ada fatwa untuk tidak shalat di masjid. Atau andai yang sakit bisa diketahui kasat mata, sehingga langsung bisa dipisahkan dan dilarang mereka masuk masjid. Jadilah yang di masjid hanya yang sehat. Mungkin jika situasinya seperti itu, tidak akan ada anjuran untuk tidak shalat di masjid.

Tapi Covid-19 berbeda. Sebagian besar malah tanpa gejala. Dan mereka bisa menularkan. Orang yang tertular dan rentan, akan cepat menjadi parah, hingga meninggal. Fatwa bisa berubah mengikuti konteks dan situasi. Jadi tidak harus berpatokan pada contoh sebelumnya. Karena dulu gak ada Covid-19.

Mereka berargumen lagi, di daerahnya belum ada kasus dan mereka melakukan protokol ketat. Seketat-ketatnya, apa mereka bisa mengontrol satu persatu jamaah saat shalat Jumat? Bisakah mereka menjamin tidak ada jamaah dari luar kampung mereka? Bisakah mereka mengetahui bahwa semua jamaah tidak ada yang terinfeksi? Kecuali diadakan rapid test tentu saja.

Ada lagi yang berargumen: hikmah adanya virus agar manusia dekat dengan Allah bukan malah menjauhi masjid. Apakah yang shalat di rumah lantas jauh dari Allah. Bagaimana kalau hikmahnya, Allah hendak memerintahkan kita memperhatikan aspek ruhiyah juga, bukan ritual semata. Termasuk menakar keikhlasan dalam beribadah: apakah shalat di rumah sama baiknya dengan ketika shalat di masjid dilihat banyak orang?

Kata mereka lagi: setan lari ketika mendengar adzan, virus juga akan lenyap kena suara adzan. Kita diberi akal oleh Allah untuk berpikir, bukan untuk berkhayal. Mengapa orang masih flu saat mendengar adzan, jika argumen mereka memang benar? Lalu kenapa jamaah JT di Kebon Jeruk justru semakin banyak yang positif Covid-19? Bukankah mereka mendengar adzan lebih sering?

Islam mengajarkan kita untuk berpikir ilmiah. Realistis. Itulah kenapa kalau sakit dianjurkan berobat. Bukan duduk di dekat corong speaker masjid. Demikian pula, kalau kita mau mengikuti saran-saran ilmiah, solusinya diam di rumah. Ibadah di rumah. Sambil tak lupa berdoa. Kalau kita berdoa seribu kali, tapi tak ada usaha memutus rantai penularan, bagaimana doa bisa terkabul?

Bagi saya, cukuplah para ulama yang mendukung fatwa MUI sebagai jaminan. Mereka yang tidak hanya cerdas tapi selalu hadir memberikan solusi umat: Aa Gym, Ustadz Abdul Shomad, Ustadz Adi Hidayat. Sementara di pihak kontra, ada Ustadz M Dzulkifli, yang pernah mengatakan bahwa orang yang kena Corona dan meninggal pastilah orang kafir atau fasiq. Sementara kita melihat sendiri, betapa banyak orang shalih yang meninggal. Sungguh menyakitkan tuduhan itu. Apalagi konon ia mengaku mendapat info itu dari jin!

Kalau tulisan ini diteruskan bisa panjang. Saya sudah mengantuk. Karena itu saya cukupkan. Jika ada tambahan sanggahan, kita lanjutkan diskusi di kolom komentar. Hehe.

Sidoarjo, 18 April 2020
01.38 WIB


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search