Efek Placebo dan Covid-19

- April 08, 2020

Oleh Sinta Yudisia*

Pernah dengar efek placebo?

Placebo effect adalah fenomena ketika orang merasakan manfaat setelah mengonsumsi sesuatu yang sebetulnya hanya merupakan dzat inactive saja. Misal ada 90 orang yang sedang diteliti menggunakan obat A sebagai obat flu. 30 orang diberi obat A, 30 orang tidak diberi obat apapun, dan 30 orang lagi diberikan kapsul kosong hanya berisi air, tetapi diberitahukan bahwa kapsul tersebut berisi obat A.

Hasilnya?

Orang yang mengonsumsi obat A sembuh dari flu, orang yang tidak mium obat A tetap sakit. Dan orang yang pura-pura diberi obat A ternyata juga sembuh dari flu! Orang yang pura-pura diberi obat A dan menyatakan diri sembuh inilah yang disebut efek placebo.

Kita sebetulnya bisa memanfaatkan kasus placebo ini untuk diri sendiri dan keluarga.

Obat Flu Berat
Saya sering flu berat. Mungkin karena begadang malam saat harus menyelesaikan tulisan. Biasanya, yang bisa menyamankan tubuh adalah segelas teh hangat manis dengan irisan lemon.

Lho, yang manjur ya air jeruk lemon hangat ,” tegur ibu. Beliau seringkali mengonsumsi kunyit dan lemon sehari-hari.

“Nggak kok,” saya bersikeras. “Teh lemon menyembuhkan juga.”

Dan, teh lemon itu masih ada syaratnya: dibuatkan oleh suami atau anak-anak.

Apakah teh lemon itu yang menyembuhkan? Atau saat sakit saya pingin lebih egois dan manja dan cari-cari perhatian? Ataukah sebetulnya teh lemon itu diganti segelas kopi panas atau susu panas, tetap menyembuhkan; asal yang membuatkan suami dan anak-anak?

Entahlah.

Yang past,i rumus kesembuhan saya adalah minuman panas plus dibuatkan orang kesayangan.
Apakah rumus ini berlaku buat Anda? Belum tentu. Anda harus cari efek placebo sendiri.

Obat Sakit Perut

Penyakit saya yang lain adalah sakit perut. Kembung karena masuk angin hingga sering diare.

“Lha kamu itu sakit perut kok malah makan rujak, sih?” tegur ibu saya keras.

“Ini bukan bakteri kok, Ma,” jawab saya sok tahu. “Ini masuk angin.”

Wis karepmu!” kata ibu saya, menyerah. Terserah elo dehmungkin demikian batin ibu saya.
Kalau masuk angin parah gegara begadang, penyakit yang timbul adalah diare. Kembung parah. Sampai agak muntir-muntir. Kalau sudah begini bisa dipastikan sulit tidur dan nggak doyan makan apapun. Padahal bisa tidur dan bisa makan adalah salah satu kunci kesembuhan. Akhirnya, saya berpikir keras, makanan apa yang merangsang nafsu makan supaya saya doyan makan dan segera sembuh.

Mie instan + telur + cabe, rujak pedas, sambel terasi; kadang malah jadi pintu kesembuhan. Syaratnya yaitu tadi, harus yakin bukan karena penyakit akibat bakteri, hehehe.

Secara teori orang sakit perut harus menjaga makanan. Tapi kadang, kalau sudah mulut pahit dan gak doyan makan, saya yakin bahwa makanan ‘unik’ yang saya pilih justru membantu sembuh.

Placebo dan Covid-19

Tanpa perlu memandang remeh pada Covid-19; sebagian kita terbagi dalam beberapa kubu. Sangat ketakutan, atau sangat meremehkan. Seharusnya kita berada di tengah-tengah. Tetap waspada, menjaga diri seperti yang disarankan pakar kesehatan, tidak cemas berlebih sehingga menjadi anxiety.
Katakanlah, kita memang sudah membawa virus Covid-19 dalam tubuh kita. Apa yang terjadi ketika kemudian panik setengah mati, merasa sebentar lagi mati, rasa kering di tenggorokan akibat cuaca panas sudah seperti sesak nafas hebat sehingga merasa perlu segera ke RS?
Pandangan “sebentar lagi mati” itu sangat bagus dalam konsep agama. Tapi bukan dihadapi dengan meratap, heboh dan panik. Justru sebaliknya: memperbanyak ibadah, membuat wasiat, memberikan nasihat penting kepada keluarga sekitar, jika masih ada harta disimpan utk ahli waris dan sebagian dibagikan. Bayangkan andai “sebentar lagi mati” justru dihadapi dengan panic buying lantaran takut mati kelaparan.

Bayangkan placebo effect ini ketika ternyata kita memang terjangkit Covid-19.

 Meminum kunyit dan meyakininya bahwa kunyit anti inflamasi dan mampu menaikkan daya tahan tubuh. Tak peduli ada jurnal yang (memang benar) menyatakan kunyit tak ampuh.
 Meminum lemon dan meyakininya memiliki banyak vitamin C, meski ada yang meyatakan vitamin C tak banyak memberikan pengaruh.
 Banyak minum air putih, yakin bisa sembuh, meski ada yang menyakininya tak ada hubungan air putih dengan kekebalan tubuh.
 Banyak berdiam di rumah dan meyakininya bahwa ini ampuh untuk memutus mata rantai Covid-19, meski berita berkata semua orang di kota besar adalah OTG.
 Banyak minum air kacang hijau yang banyak mengandung vitamin E dan meyakininya bagus untuk melawan Covid-19 meski jurnal yang menyatakan itu masih sedikit.

Manusia selau butuh obat dan merasa nyaman ketika mengonsumsi obat yang diyakininya mujarab. Ada orang yang merasa harus beli obat paten, meski isinya mirip dengan generik. Ada orang yang merasa harus minum obat tertentu, meski kunci sebenarnya harus istirahat dan makan bernutrisi. Ada orang-orang yang merasa sakit ketika belum bertemu dokter, dan harus ketemu dokter, dan langsung sembuh ketika dokter bilang, “Anda gakpapa, kok!”

Meski sekian banyak membaca sumber berita dan tidak ada satu pun tanda-tanda sakit yang diderita; rasa-rasanya tubuh tetap sakit dan penyakit “jangan-jangan” timbul tenggelam di benak. Jangan-jangan sudah terjangkit. Jangan-jangan sudah parah. Jangan-jangan sudah positif. Bahkan ketika tubuh tidak tumbang karena Covid 19, orang bisa mati karena rasa cemas dan takutnya yang berlebih.

Manusia butuh obat ketika ia (merasa) sakit.

Kalau kita merasa terus-terusan sakit, obat semahal apapun tidak menyembuhkan. Sebaliknya, bila yakin bahwa obat murah pun bisa menyembuhkan, tubuh segera pulih. Tentu, ini tanpa mengabaikan saran dan kepakaran ahli medis, ya!

*Psikolog, Penulis, Dewan Pertimbangan FLP

sumber gambar: dictio.id


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search