Cacian yang Mengundang Nikmat

- April 08, 2020

Oleh Almaidah Istibsyaroh*

Musibah terbesar dalam hidup adalah musibah yang menimpa agama dan keimanan kita. (al-hadits)

Sejak melahirkan putra pertama, suamiku memintaku fokus pada pengasuhan dan pendidikan mereka. Akhirnya aku resign dari sekolah yang sudah hampir tiga tahun berkecimpung sekaligus mendapatkan pengalaman dan banyak ilmu tentang dunia pendidikan remaja. Aku tentu memaklumi keinginan suamiku yang karena profesinya tak mampu selalu membersamai aku dan anaknya. Ia ingin kami tak menyia-siakan amanah dari-Nya.

Selama lima tahun, dalam dua tahunnya Allah tambahkan amanah kepada kami. Tiga amanah tersebut semakin membuat kami harus lebih meningkatkan ilmu dan kesabaran terhadap mendidik mereka. Tak ada masalah yang cukup membuat kami harus bersedih atau bahkan berpikir keras untuk menyelesaikannya. Hidup kami datar. Apa adanya. Aku sibuk dengan kajian pekanan bersama teman-teman lainnya. Meski dengan tiga balita aku selalu bersemangat menghadiri majelis-majelis taklim lainnya.

Sebelum sulung kami mengakhiri masa TK-nya, kami memilih tinggal di desa. Kami mendapatkan sebuah rumah kontrakan yang cukup luas dan besar. Suamiku punya alasan agar anak-anak bebas bermain di dalam rumah. Setiap ruang yang lebar di sulap menjadi play ground agar memudahkanku mengawasi mereka sambil memasak atau menyiapkan kebutuhan rumah tangga.

Tiba saatnya, sulung harus masuk Sekolah Dasar. Suamiku beripikir keras tentang ‘spesial’-nya anak pertamaku ini. Sebenarnya saat itu ada keinginan yang sangat besar untuk memasukkan mereka ke Sekolah Islam Terpadu. Namun, tentu sekolah tersebut hanya ada di tengah kota. Selain uang masuk yang mahal menurutku, kami juga harus pindah mencari rumah kontrakan baru di kota, menambah biaya. Suami punya alasan kuat mengapa sekolah Islam itu yang dipilih. Dan tentu alasannya adalah karena berharap program sekolah bisa membantunya mendidik anak kami. Ada pengalaman mengesankan menurutnya ketika kami berkunjung ke rumah saudara yang tinggal di kota. Anak saudara kami juga sekolah di SIT tersebut. Akhlaknya luar biasa terhadap orangtua, tamu, dan anak kecil. Jadilah, suamiku semakin mneggebu-gebu untuk tetap bisa memasukkan anaknya di sana.

Qodarullah,seorang teman suami yang sedang bekerja di kapal Arab Saudi menelponnya. Teman itu menanyakan bagaimana kabar kami dan anak-anak kami. Bagaimana sekolah anak-anak kami? Dan kemudian menyarankan jangan sampai anak-anak kami sekolah di milik pemerintah. Suamiku akhirnya menyampakan kendalanya. Kami tak punya cukup dana. Esoknya rekening suami telah mendapatkan transferan darinya. Aku ingat jumlahnya puluhan juta. Allahu Akbar!

Akhirnya kami pindah ke kota. Mendaftarkan kedua anak kami di SDIT dan TKIT. Tinggallah bungsu yang masih belum sekolah. Rumah kontrakan di sebuah perumahan juga kami dapatkan dengan mudah dan harga yang lebih murah dibanding lainnya. Semuanya adalah nikmat dari-Nya. Dua tahun kehidupan kami berjalan sangat baik. Aku semakin sibuk dengan sekian taklim dan acara-acara sosial. Apalagi anak bungsuku juga sudah masuk sekolah. Suamiku mendapat pekerjaan di sebuah kapal yang cukup menjanjikan dengan periode 3 bulan kerja dan 1 bulan libur di rumah. masyaAllah, rasa syukur yang semakin tinggi selalu aku haturkan pada-Nya.

Hingga suatu ketika, musibah itu datang menghujam dan hampir membuat diriku kelimpungan. Suamiku di-PHK karena sebuah tuduhan. Entah apa kesalahannya, aku tak ingat. Kehidupan kami berubah drastis. Aku yang terbiasa hanya mengambil uang dari ATM kini harus membanting tulang dan memutar otak untuk membantunya. Beberapa usaha on line aku jalankan. Namun hasilnya hanya cukup untuk makan. Sedang syahriyah sekolah tiga anak hampir berjumlah 3 juta. Dari mana kami mendapatkan?

Alhamdulillah, untuk pembayaran sekolah anak-anak, ada seorang teman suami yang siap memberi pinjaman. Tinggal memikirkan dari mana uang kontrakan rumah yang sebulan lagi sudah harus dibayarkan. Aku sampaikan keinginanku untuk pulang saja ke desa. Aku ingin pulang ke rumah ibu. Aku tak mampu, tak sanggup. Bahkan suatu ketika saat aku harus mengantar orderan pembeli dengan menunggu sambil berdiri di depan pagar rumah besar dan mewah itu dalam waktu yang sangat lama membuat suamiku "marah". Hari itu adalah ketiga kalinya aku mengantarkan orderannya sesuai dengan jadwal yang kami sepakati. “Seperti pengemis, ayo pulang saja!” pinta suamiku dengan mata berkaca-kaca. Tidak mungkin. Aku akan kehilangan uang laba sekitar 40 ribu, sangat besar untuk kami saat itu. Akhirnya kami bertengkar. Aku tidak bisa memahami jalan pikiran suamiku. Dan suamiku memang sebenarnya tak tega melihatku seperti pengemis yang enggan dibukakan pintu.

Seorang teman yang pernah satu pesantren denganku menawariku, dialah ustadzah Liha, istri Ustadz Muchlisin, ketua umum komite sekolah di mana anakku belajar. Kami cukup dekat karena memang aku juga termasuk pengurus dalam jajaran organisasi itu. 

“Pake uang ini untuk bayar kontrakan, yang penting setahun ini ada tempat untuk tinggal, selanjutnya kita pikirkan nanti. Pasti ada jalan, insyaaAllah.” Aku menerimanya dengan hati yang berat. Aku takut membayangkan sekian hutang yang tentu harus aku bayar. 

Murabbiyahku juga berpesan, “Kembali ke desa belum tentu menjadi jalan keluar terbaik. Suami Mbak Alma punya azzam yang kuat untuk sekolah anak-anaknya. Bismillah, ramadhan tinggal beberapa hari. Fokus berdoa!”

Uang SPP sudah ada yang menyiapkan. Uang kontrakan juga sudah terbayarkan. Hampir setahun suamiku tak memiliki pekerjaan yang menjanjikan. Aku juga akhirnya bisa melihat siapa yang peduli. Hampir tidak ada satu pun keluarga kami yang menoleh ke arah kami. Kecuali ibuku. Apakah aku sakit hati? Tentu awalnya aku sakit hati. Mengingat mereka selalu hadir saat kami mempunyai semuanya untuk dibagi. 

Aku dan suami terus berusaha melakukan apapun yang kami bisa. Membuat nugget untuk dijual dan sisanya untuk makan anak-anak kami. Menjual jamu herbal dengan mengantar ke sana ke mari bahkan sampai luar pulau dengan motor untuk menghemat pengeluaran kami. Iya, kami memang punya mobil. Tapi ibuku melarang kami untuk menjualnya. Tentu rugi iya, karena ia mobil tua. Dan selanjutnya kami akan kesulitan silaturahim ke orang tua dengan hanya bermodal motor roda dua mengangkut ketiga anak kami.

Berapa aplikasi telah kami kirim ke perusahaan-perusahaan pelayaran. Aku pun tak ketinggalan, atas saran murabbiyahku dan izin suamiku, aku juga mengirim aplikasi ke sekolah anakku. 

Ramadan pertama, suamiku mendapat kabar gembira. Ada sebuah tug boat yang membutuhkan ijazahnya. Surabaya menyambut kami. Meski gajinya jauh di bawah yang pernah kami dapatkan. Aku tak keberatan suamiku kerja di sana. Selain dekat, suamiku juga bisa setiap pekan dan paling lama dalam sebulan akan pulang membersamai kami. Awal Ramadan yang indah tentu saja. Meski perjuangan masih harus dilanjutkan, aku hadapi hari-hari dengan penuh kesungguhan. Aku ajak ketiga anakku beri’tikaf hampir sepuluh hari penuh di masjid sekolah. Tentu ketika suamiku tidak di rumah, dan sudah pasti aku dapati izinnya.

Ramadan tahun itu menjadi bulan yang sangat menyejarah bagiku. Bagaimana tidak? Seorang tetangga samping kanan rumah kontrakanku sudah lama aku dapati kurang begitu menyukaiku. Bukan istrinya, melainkan suaminya. Entah apa sebabnya aku tak tahu. Yang jelas aku selalu menyapa dan menebar senyum ketika berjumpa dengan istrinya. Istrinya baik dan sopan namun tidak dengan suaminya. Anak-anakku yang sering bermain di depan rumah bahkan pernah ditegurnya dengan suara yang kurang sopan. Hingga suatu hari ia menagih pembayaran bulanan RT senilai 50 ribu. Aku mengatakan pada beliau bahwa aku sedang tidak punya uang bulan ini. insyaAllah besok kalau sudah ada akan segera aku bayarkan, tawarku. Sungguh aku tak pernah telat untuk iuran ini. Baru saat itu. Suamiku pulang, yang tentu belum mebawa uang gajian. Baru sepekan. Dan saat kembali ke surabaya pun aku yang harus mencarikan uang untuk bayar kendaraan. Hari itu aku hanya memegang uang 100 ribu hasil dari laba jualanku. Jika 50 aku berikan suami dan sisanya aku bayarkan pak penagih, besok aku beli lauk anak-anakku dengan apa? Aku memilih menunda dulu. Apalagi ini masih Ramadan, pikirku. Anak-anakku butuh lauk yang bergizi untuk mendukung ibadah puasa mereka.

Isya’ hampir tiba. Aku telah meminta ketiga anakku agar segera bersiap berangkat ke masjid sekolah. Cukup jauh jaraknya. Namun hal itu tak membuat kami patah semangat. Hanya masjid sekolah anakkulah yang bisa menerima anak kecil untuk mengikuti ibadah. Saat aku membuka pagar rumah, pak penagih itu telah ada di depannya.

“Mbak, mana uang pembayarannya?”
“Maaf, Pak. Saya belum ada. InsyaaAllah awal bulan Pak ya.”
Suaranya meninggi dengan wajah memerah.
“Dasar wanita munafik! Kemarin bilangnya besok. Sekarang bilangnya awal bulan. Mana yang bisa dipercaya!"
“Maksud saya kemarin, besok kalau ada Pak, suami saya baru dapat kerja Pak."
“Halah! Alasan. Jilbab besar tapi munafik!” Dia pergi dengan amarahnya.
Tubuhku bergetar. Hampir saja ingin aku lepas jilbabku agar tidak meberi kesan buruk pada setiap pemakainya. Namun, ada hal yang lebih mengiris hatiku.
“Ummi, kakak takut. Ayo pindah saja dari rumah ini. Apa umi tidak takut dengan bapak itu? Apalagi kalau abi tidak di rumah.” Sulungku mendekatiku dengan badan gemetar dan mata yang sembab.
Aku memeluknya erat. Kedua adiknya yang masih TK B dan play group aku lihat diam terpaku menahan tanya, ada apa?
“Maafkan umi abi, Nak, kami tak selalu mampu memberikan yang kamu mau. Mintalah Kak, mintalah kepada Allah, Dia satu-satunya yang bisa mengabulkan semua  permintaan kalian.” Biji mataku tak kuasa menahan tetesan air yang semakin menderas. “Kita berangkat sekarang!”

Aku sengaja tidak pulang ke rumah. Aku memilih tidur di masjid dengan ketiga anakku. Meskipun malam itu bukan malam ganjil di sepuluh terakhir Ramadan, kurasakan nikmat bermunajat di malam menjelang subuh itu. Hampir 5 juz aku habiskan dengan penuh kekhusyu’an. Aku merasa dekat sekali dengan-Nya. Aku pinta, kuatkan aku dan anak-anakku. Aku memohon, cukupi kami selalu. Aku lihat sulungku juga mengikuti caraku. Ia menggelar sajadah dan khusyu’ dalam doanya, sedangkan kedua adiknya tidur nyenyak dengan alas selimut seadanya.

Sebulan setelah Ramadhan berlalu, aku mendapat panggilan tes di sekolah anakku. Aku lulus dan langsung diminta untuk mengajar di sana. Tak kusangka ternyata ketiga anakku menyambut kabar itu, membuat mereka senang dan semakin bersemangat. Mereka bangga mempunyai ibu seorang guru. Dua pekan kemudian, aku menawarkan diri untuk menempati rumah tahfidz di sebuah perumahan elit di depan Rumah Sakit Umum Daerah. Aku menawarkan diri karena dari ketiga guru tidak ada yang mau. Sedangkan koordinator rumah tahfidz berharap agar ada salah satu dari kami yang berkenan untuk menempati rumah tahfidz tersebut. Yayasan menyetujui permintaan koordinatorku dan malah menambah fasilitas gratis listrik dan air serta bulanan perumahan. MasyaAllah. Jadilah, kami pindah ke tempat baru, meskipun baru dua bulan rumah kontrakan kami telah kami bayar untuk setahun ke depan. Betapa nikmat itu sangat dekat. Trauma yang dialami sulungku karena cacian tetanggaku akhirnya hilang berganti dengan semakin percayanya dia pada doa-doa hamba yang dipanjatkan dengan penuh keyakinan. Allahu Akbar!

*Penulis, Guru

sumber gambar: statusaceh.net


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search