Pantaskah Kita Merindu Rasulullah?

- November 15, 2019
rindu rasul

Oleh Retno Wi

Inilah kisah kerinduan yang luar biasa. Meskipun raga belum pernah berjumpa dan mata belum pernah menatap, namun rindu itu tumbuh begitu suburnya. Ya, kerinduan kepada manusia agung, Rasulullah SAW. Manusia terbaik yang telah Allah turunkan ke muka bumi. Teladan terhebat yang tak pernah lekang sepanjang hayat.

Siapa yang tidak merindukannya? Seorang kekasih Allah dengan kesabaran melebihi luasnya samudera. Yang memilih memberikan doa terbaik untuk membalas lemparan batu dari kaum Thaif yang menolak seruannya. Yang tetap menyuapi dengan segenap kasih kepada si buta yang tak berhenti mencacinya. 

Siapa yang tidak mencintainya? Seorang Rasul berhati mulia, yang sangat mengkhawatirkan ummatnya menjadi penghuni neraka. Ummati… ummatii… ummatii… Sungguh sebuah cinta yang tak pernah berharap balasan.

Siapa yang tidak ingin berjumpa dengannya? Seorang Nabi yang tak lelah memberikan teladan kepada kaumnya. Yang dengan melihat wajahnya, gelisah berubah menjadi bahagia. Iman yang futur kembali subur. Hingga seorang Uwais Al-Qarni rela menempuh perjalanan dari Yaman ke Madinah untuk dapat berjumpa dengan Rasulullah SAW yang sangat dirindukannya. Meski takdir telah ditetapkan, bahwa Uwais tidak pernah bertemu dengan beliau selama hidupnya.

Siapa yang meragukan kasih sayangnya? Saat perang Khandaq berlangsung, Rasulullah SAW dan kaum muslimin pernah tidak merasakan makanan selama tiga hari. Hingga Jabir menyembelih satu-satunya anak kambing yang dimiliki. Ya, hanya ada sedikit gandum dan seekor anak kambing. Tidak lebih. Maka dengan kecintaannya, Jabir mengundang Rasulullah untuk makan di rumahnya. Namun, Rasulullah SAW bukanlah manusia egois, maka diundanglah seluruh pasukan untuk ikut menikmati jamuan yang telah disiapkan Jabir. Bahkan beliau sendiri yang melayani para sahabatnya, mengambilkan roti dan menuangkan daging. Sehingga semua mendapatkan bagian, dan beliau yang terakhir menikmati jamuan.

Namun, pantaskah kita merindukannya? Saat lisan kita masih enggan bershalawat saat nama beliau disebut. Saat tangan kita masih berat mengamalkan sunnah-sunnah yang telah beliau lakukan. Pun hati kita, yang masih lebih banyak dipenuhi bangkai dunia dibandingkan cahaya akhirat. 

Apakah benar kita merindukannya? Saat kita hanya bisa membisu ketika Sang Kekasih Allah dicaci dan dinista. Saat gigi ini hanya bisa gemeretak ketika sabdamu dicampakkan karena dianggap ketinggalan zaman. Bahkan dada ini hanya bisa bergemuruh menahan marah. Tanpa sanggup berbuat lebih untuk membelamu.

Duhai Kekasih Allah, maafkanlah kami yang belum bisa membuktikan cinta ini. Yang kadang masih setengah hati meng-ittiba’i jalan yang pernah engkau lalui. Namun kami begitu berani mengharapkan syafaatmu, begitu ingin diakui sebagai umatmu dan sangat berhasrat menikmati segarnya telagamu. Semoga rindu ini bukan hanya angan-angan semu.

Surabaya, 13 November 2019 



Editor: Rafif Amir


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search