Beginilah Muslim Melihat Dunia

- Februari 01, 2019


“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15-16)

Saat kita mengeluh tak mendapat bagian dari dunia, ada baiknya kita renungkan lagi firman Allah di atas. Alangkah mudah bagi Allah, jika Dia menghendaki, semua dunia berserta perhiasannya itu dikucurkan pada kita. Lalu kita mendapatkan semua yang kita inginkan. Kita mendapatkan lebih dari apa yang kita idam-idamkan.

Tetapi apakah lantas dunia itu menjadikan kita semakin taat atau kemudian berpaling dari-Nya? Sebab kita merasa bahwa segala harta dan kemewahan itu adalah karena kerja keras kita. Tak ada peran Allah, kecuali sedikit. Masya Allah!

Seorang teman pernah bercerita, ia mengenal seseorang yang memutuskan pindah agama karena merasakan kemiskinan ketika memeluk Islam. Setelah pindah agama, kehidupannya berubah. Kebutuhannya tercukupi. Tapi entah bagaimana ia mendapat hidayah, ia kembali ke pangkuan Islam. Kembali menjadi muslim. Tapi tak lama, ia kembali murtad karena tak tahan miskin!

Sungguh, dunia itu adalah ujian. Siapa yang memburunya, Allah akan mengujinya dengan dunia itu. Apakah Allah yang dia tuju, atau dunia dan segala perhiasannya yang ia cari? Jika hijrahnya karena Allah maka ridha Allah yang ia dapatkan, tapi jika hijrahnya karena dunia yang dicintai maka Allah akan berikan padanya bagian dari dunia itu. Tetapi sungguh, ia telah memilih berada dalam golongan orang-orang yang rugi.

Padahal nikmat dunia tak seberapa jika dibandingkan dengan kenikmatan di akhirat, surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Tempat manusia beristirahat dan menikmati segala keindahan. Dunia ini, kata Rasulullah, tak lebih berharga dari sayap nyamuk. Andai dunia lebih berharga dari sayap nyamuk, maka orang-orang kafir tak akan mendapatkan bagian dari dunia ini meski hanya seteguk.

Ya Allah, terang sekali bagaimana Rasulullah SAW membuat perumpamaan. Sebab dunia yang sangat kecil dan hina itulah, orang-orang kafir masih diberi kesempatan menghirup napas di bumi-Nya. Bahkan mereka memiliki gudang-gudang harta. Allah berikan kepada mereka kekayaan yang melimpah. Mereka mendapatkan bagian yang banyak dari dunia, dan mereka menganggap mereka adalah orang-orang yang beruntung. Padahal, nerakalah tempat kembali mereka. Dan saat itu, saat tubuh mereka terpanggang oleh api yang menyala-nyala, sirnalah segala nikmat yang pernah mereka rasakan. Bahkan mereka lupa bahwa mereka pernah merasakan nikmat itu di dunia. karena begitu kerasnya siksaan yang mereka rasakan.

Maka masihkah kita menukar kehidupan dunia ini dengan kehidupan akhirat? Masihkah kita lalai ketika seruanNya diperdengarkan, lalu kita enggan dan malas menyambutnya. Kita sibuk memburu dunia. Padahal semuanya fana. Semua hanya titipan. Allah pemilik segalanya.

Saya teringat, sebuah kisah indah antara Rasulullah SAW dengan kaum anshar. Saya selalu menangis ketika membaca kisah ini. Suatu ketika mereka protes pada Rasulullah tentang harta rampasan perang. Mereka menganggap Rasulullah membaginya tidak adil. Maka dikumpulkanlah mereka semua. Rasulullah SAW bersabda, “Wahai kaum anshar, bukankah dahulu aku datang kepada kalian saat kalian sedang sesat, lalu Allah memberi kalian petunjuk? Dulu kalian miskin lalu Allah mencukupi kalian? Dulu kalian bermusuhan, lalu Allah menjadikan kalian bersaudara?”

Rasulullah melanjutkan, “Sungguh, jika kalian mau, kalian akan mengatakan secara jujur dan kalian dibenarkan. Katakan: engkau telah datang kepada kami sebagai orang yang terusir lalu kami menampungmu, engkau datang sebagai seorang miskin lalu kami mencukupimu, sebagai seorang takut lalu kami melindungimu, sebagai orang terhina lalu kami memuliakanmu. Wahai kaum anshar! Apakah kalian menginginkan dalam diri kalian secuil dari dunia yang dengannya aku ingin mengambil hati segolonga mereka agar masuk Islam, sementara aku tak meragukan lagi keislaman kalian. Tidakkah engkau rela wahai saudara-saudaraku anshar, mereka membawa kambing dan unta sementara kalian pulang membawa Rasulullah? Demi Dzat yang jiwaku dalam genggaman-Nya, jika bukan karena hijrah pastilah aku termasuk golongan anshar. Seandainya orang berjalan ke bukit dan orang anshar berjalan ke bukit lain, pasti aku akan berjalan ke bukit yang dituju kaum anshar.”
Orang-orang anshar menangis. Air mata mereka bercucuran. Rasulullah berdoa, “Ya Allah, rahmatilah orang-orang anshar, anak-anak orang anshar, dan cucu-cucu orang anshar.”

Apakah kita mengira bahwa iman dan keislaman kita, apakah kita mengira hidayah yang Allah berikan kepada kita, lebih hina dari dunia? Sekali-kali tidak! Andai kita tak mendapat bagian apapun dari dunia ini, maka cukuplah, maka cukuplah, cukuplah Allah dan RasulNya. Cukuplah iman dan amal shalih, yang kita bawa ke liang lahat. MenghadapNya. [rafif]


sumber gambar: steemit.com


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search