Saat Penjara Lebih Berharga

- Januari 31, 2019

Yusuf AS menyadari sepenuhnya ketika ia berkata, “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka. Jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung (untuk memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” Bagi Yusuf, penjara bukanlah neraka, bukan tempat yang menyeramkan. Penjara justru kelak mengantarkannya pada kemuliaan.

Penjara ia pilih demi menyelamatkan kesuciannya, menyelamatkan imannya. Tak ada yang lebih berharga daripada iman yang tersimpan di dalam dada. Yusuf menjalani takdirnya. Penjara menjadi tempat kontemplasi, berkhalwat dengan-Nya, juga tempat menebar dakwah dan kebaikan. Penjara pula, yang pada akhirnya, menunjukkan kebenaran. Bahwa Yusuf tidak bersalah. Penjara yang menguatkan bashirah-nya hingga bisa menakwilkan mimpi raja, lalu menjadi jalan memasuki pintu istana.

Kita belajar dari ketegaran dan kesabaran Yusuf. Kita belajar memutuskan seperti keputusan Yusuf, saat kita dihadapkan pada dua pilihan: siksanya atau siksa-Nya. Penderitaan dunia tak ada artinya jika dibandingkan dengan adzab di akhirat. Maka kita jalani hukuman seperti Yusuf demi menyelamatkan diri dari maksiat yang besar.

Sungguh telah begitu banyak orang-orang shalih sebelum kita yang dipejara, bukan karena mereka bersalah tetapi karena mereka tak ingin mendurhakai Tuhannya sedikit pun. Mereka disiksa tetapi mereka membayangkan siksaan neraka yang dahsyat sehingga mereka bisa mengalahkan rasa sakit. Mereka disiksa tetapi mereka membayangkan kenikmatan surga dan segala isinya, sehingga menjadi ringanlah derita.

Penjara menjadi taman yang indah. “Sesungguhnya aku menunggu saat seperti ini,” kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, saat ia dimasukkan dalam penjara Qal’ah. “Karena di dalamnya terdapat kebaikan yang besar.” Dan benar, di dalam penjara beliau menjadi semakin khusyu’, semakin banyak kesempatan untuk bermunajat, bahkan di dalam penjara beliau menulis banyak kitab yang kemudian menjadi rujukan bagi umat Islam.

“Apa yang diperbuat musuh kepadaku,” kata beliau lagi. “Taman dan kebunku ada dalam dadaku. Kemana pun aku pergi ia selalu bersamaku. Terpenjaraku adalah khalwat, kematianku adalah syahid, terusirku dari negeri ini adalah rekreasi.” Betapa sungguh luar biasa mereka memaknai sebuah keterpenjaraan fisik. “Orang yang terpenjara adalah yang terpejara hati dari rabbnya. Orang yang tertawan adalah yang tertawan oleh hawa nafsunya.”

Tak ada yang dapat menghalangi seorang mukmin dari kebahagiaan kecuali kekalahan menghadapi hawa nafsunya, kecuali telah jauh dari Rabbnya. Selama Allah bersamanya, tak ada kekhawatiran dalam dadanya, tak ada kesedihan, tak ada penderitaan. Syaikh Aidh Al-Qarni mengarang La Tahzan yang menginspirasi banyak orang untuk bahagia justru saat beliau sedang dipenjara. Bukti bahwa begitu banyak yang harus kita syukuri daripada yang kita tangisi dari hidup ini. [rafif]


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search