Yasser Arafat dan Inkonsistensi Perjuangannya

- Oktober 04, 2018
Awalnya, Yasser Arafat dikenal sebagai pemimpin yang tegas dan berani. Kata-katanya menunjukkan sikap dan garis perjuangannya. Dilahirkan di Kairo, 24 Agustus 1929, ia tumbuh sebagai pemuda yang disegani kawan maupun lawan. Tahun 1947, saat usianya masih 18 tahun, ia telah aktif melakukan perlawanan terhadap zionisme hingga kemudian ia rela meninggalkan bangku kuliahnya di Universitas Kairo demi memenuhi panggilan jihad di jalur Gaza.

Lalu ia mendirikan organisasi perjuangan bernama El-Fatah. Ia bersama El-Fatah menolak perdamaian dengan Israel. "Meskipun perlawanan itu sudah berjalan puluhan tahun lamanya, namun kami menganggap baru dalam babak permulaan. Kami sedang menyusun kekuatan untuk melakukan perlawanan jangka panjang. Perlawanan yang mungkin berjalan dari generasi ke generasi. kalau Anda menyatakan sampai kapan kami dapat bertahan, maka pertanyaan itu saya balik, sampai kapan Israel dapat bertahan. Kami telah membuatkan tekad, tidak akan menghentikan perlawanan kami sebelum Israel hancur musnah dan kami memperoleh kembali Palestina," kata Arafat dengan lantang. "Tidak, sekali lagi tidak! Kami tidak menginginkan perdamaian, yang menguntungkan Israel dan kaum Imperialis, yang merupakan ketidakadilan dan penindasan bagi kami. Perdamaian bagi kami, adalah hancurnya kekuatan Israel dari bumi tanah air kami!"

Tahun 1964 Liga Arab mensponsori berdirinya Palestine Liberation Organisation (PLO) dan lima tahun kemudian Yasser Arafat menjadi ketua komite eksekutifnya. Perjuangan untuk kemerdekaan Palestina semakin dikobarkan.

Dalam sebuah wawancara seperti yang dikutip dalam Majalah Panji Masyarakat Edisi 254, September 1978, begitu nampak gelora semangat Arafat dalam membela hak-hak Palestina. Berikut saya petikkan beberapa kata-katanya yang menyala-nyala itu.

"Saya tidak tidak pernah memusingkan mengenai keamanan diri saya, karena saya selalu siap menentang maut, apabila diperlukan. Mungkin kematian saya akan lebih bermanfaat bagi perjuangan, karena akan merupakan kejutan yang lebih menggelorakan semangat perjuangan."
Dalam kesempatan itu pula, Yasser Arafat menyampaikan alasan ia tidak menikah, bukan karena ingin meniru Ho Chi Min, tetapi karena belum menemukan wanita yang cocok. "Dan sekarang kesempatan itu sudah berlalu," kenangnya, "Karena saya sudah menikah dengan Palestina." Namun kenyataannya tahun 1990 Arafat menikah dengan seorang wanita kristen Palestina.

Entah apa yang terjadi dalam diri Abu Ammar (nama lain atau julukan Yasser Arafat, yang artinya Sang Pembina), sejak 1988 sikapnya mulai melunak. Ia duduk satu meja dengan Israel untuk melakukan perundingan-perundingan. Bahkan sikap lunaknya itu, mengantarkannya meraih Nobel Perdamaian tahun 1994 bersama musuh bebuyutan Palestina, Yitzak Rabin dan Shimon Peres. Dimana setahun sebelumnya, telah terjadi perjanjian Oslo dengan Israel yang salah satu kesepakatannya adalah Arafat mengakui Israel sebagai sebuah negara. Itu membuatnya dikecam habis-habisan karena tidak konsisten dengan garis perjuangan sebelumnya.

Arafat tak lagi dielu-elukan sebagai pahlawan pembebasan Palestina. Benar, ia adalah presiden pertama Palestina, tapi ia justru "bertekuk lutut" di hadapan penjajah yang ingin mencaplok negerinya. Akhirnya, 11 November 2004 dalam usia 75 tahun ia meninggal dunia meninggalkan kontroversi berkepanjangan tentang sosoknya. Seorang militan yang berubah haluan menjadi kelewat moderat, seorang yang menanggalkan cita-cita perjuangannya dan berkompromi dengan musuh. Ada yang menyebut itu semua karena iming-iming kekuasaan dan harta dari Israel, Amerika, dan sekutunya. Bahkan saat menjabat presiden, Arafat dituding telah melakukan korupsi besar-besaran. Wallahu'alam. (@RafifAmir)


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search