Sebab-Sebab Aceh Disebut Serambi Mekkah

- Oktober 04, 2018

Mengapa Aceh disebut sebagai Serambi Mekkah dan apa buktinya?

Kerajaan Islam Perlak di Aceh berdiri pada tahun 840 M-972 M, diperintah oleh 8 sultan dan raja. Daerah Aceh Besar atau Aceh Tiga Segi merupakan inti kesultanan Aceh. Menurut kitab Tadkirat Radikin yang ditulis oleh Teungku Kutakarang menyebutkan bahwa nenek moyang mereka berasal dari tiga bangsa, yaitu Arab, Turki, dan Persia.

Bahasa yang banyak dikenal oleh masyarakat adalah bahasa Arab, Melayu, Sansekerta, dan Persia. Sementara aksara hanya dikenal aksara Arab diiringi oleh bahasa Melayu sebagai bahasa resmi. Itu fakta sebelum Belanda menjajah Aceh pada awal abad 20).

Bangsa Aceh menganggap ibukota negerinya hanyalah Mekkah. Agama Islam adalah agama satu-satunya yang dipeluk mereka. Jika ada yang bukan beragama Islam, maka mereka tidak boleh menetap di gampong (kampung) dan daerah mukim lainnya. Mereka boleh datang untuk berniaga tapi setelah selesai urusannya disilakan untuk kembali bermalam di kapal.

Inilah yang menyebabkan Aceh disebut sebagai Serambi Mekkah.

Adapun bukti bahw Aceh berhak menyandang sebutan Serambi Mekkah, Prof. Dr. Hamka dalam Seminar Islam tahun 1980 menyebutkan setidaknya empat alasan.

1. Disebut dalam Sejarah Perkembangan Islam di Tanah Jawa bahwa terkenal dakwah Wali Songo. Maka tersebutlah Sunan Bonang (Makdum Ibrahim) hendak berangkat ke Mekkah, lalu ditinggalkannya Sunan Kalijogo di Demak (kemudian bermakam di sana, di Kadilangu). Tetapi Sunan Bonang singgah terlebih dahulu di Pasai, Aceh, memperdalam ilmunya.

2. Tersebut di dalam kitab Sejarah Melayu (cerita yang ke-20) bahwa di zaman kebesaran Malaka, Sulthan Mansur Syah (1456-1477 M) mengirimkan utusan ke Pasai meminta fatwa hukum tertinggi dengan membawakan hadiah emas tujuh tahil dan dua orang budak perempuan.

3. Dalam hikayat catatan Fakih Shaghir, seorang ulama besar di zaman Perang Paderi (pertiga pertama abad ke-19 M) bahwa ilmu pengetahuan Agama Islam yang berjalan di Minangkabau diterima dari Aceh. Kalimat Paderi sebagai nama gerakan melawan Belanda itu disebut diambil dari kata Pidari yaitu negeri Pidir, Aceh.

4. Dengan terang jelas Syekh Arsyad Banjar mengatakan bahwa kitabnya yang terkenal bernama Sabilal Muhtadin adalah lanjutan dari kitab Shirathal Mustaqim karangan Syekh Nuruddin Ar-Raniri dari Aceh.

Sumber: buku Masuknya Islam ke Indonesia karya Yusuf Abdullah Puar


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search