Pembakaran Bendera Tauhid, Jangan Mau Diadu Domba!

- Oktober 26, 2018

Oleh Asmak Afriliana 

Tergerak untuk menulis sekadar menuangkan apa yang saya rasakan terkait dibakarnya bendera tauhid. Seketika ada rasa sedih yang membuncah, ketika melihat video tersebut. Bagaimana mungkin dengan mudah membakar kalimat tauhid yang dengannya kita hidup dan mati. Kalimat yang merupakan proklamasi keislaman kita. Kalimat yang membedakan antara yang muslim dan kafir. Sebuah kalimat agung yang dengannya nabi dan ulama berdakwah. Tetapi saya tidak ingin serta merta kemudian mengambil keputusan sendiri bahwa apa yang dilakukan mereka adalah salah. Saya coba melihat beberapa video klarifikasi dari pihak yang membakar tentang apa alasan mereka:
1. mereka menganggap itu adalah bendera HTI
2. mereka tidak ingin kalimat tauhid dijadikan politik
3. mereka justru ingin membela tauhid karena digunakan untuk kepentingan golongan tertentu
4. dengan cara dibakar justru untuk memuliakan
5. peraturan hari santri adalah tidak boleh membawa bendera selain bendera merah putih dan bendera santri

Baik. Saya sudah dapatkan informasi itu. Saya pribadi pernah duduk ikut kajian-kajian HTI sekalipun saya bukan golongan mereka. Kalau kajian NU malah lebih sering.Karena saya suka sekali ikut kajian dimanapun siapapun yang mengisi, sekalipun berbeda dengan kelompok yang biasanya saya ikuti kajiannya. Buat saya hidayah Allah itu ada dimana saja dan dari siapa saja. Saya ingin bersaudara dengan siapapun terlebih yang muslim. Sepanjang masih bertauhid dengan kalimat yang sama, maka mereka saudara kita. Tidak ada yang salah dari ketauhidan HTI. Tuhannya sama dan nabinya juga sama. Hanya mungkin impian mereka yang sulit terlaksana dengan ingin terbentuknya khilafah. Syariat Islam wajib ditegakkan tapi tidak serta merta kemudian membentuk sebuah negara baru. Sekalipun khilafah ada, maka orang-orang munafik juga pasti ada, seperti halnya di zaman Rasulullah dulu. Ada beberapa hal yang saya tidak setuju (tidak ingin saya sebutkan). Intinya, tidak ada yang salah dari ketauhidan mereka dan mereka saudara kita.

Jangan sampai kebencian kepada mereka membuat kita menghalalkan segala cara. Bukankah HTI juga sudah dilarang oleh negara? mau apa lagi? tidak perlulah sampai membakar bendera kalimat tauhid. Jika memang identik dengan HTI dan tidak suka mengapa tidak diletakkan saja di tempat yg baik, diamankan.

Persepsi bahwa bendera tauhid adalah pasti bendera HTI ini persepsi sepihak mereka. Semestinya mereka konsultasi dengan aparat boleh tidaknya membakar bendera tersebut. Seharusnya mereka bisa berpikir lebih panjang apa akibatnya jika melakukan ini terlebih hal tersebut berkaitan dengan ummat islam semuanya.

Mohon saudaraku jangan mau terprovokasi. Jangan mau diadu domba. Kita semua bersaudara. Berpendapat boleh, tapi merasa paling benar kemudian menyudutkan yang lain tidak perlulah. Semoga oknum banser tersebut Allah ampuni dan segera bertaubat (bisa jadi mereka tidak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan adalah salah). Sebagian ulama NU berpendapat boleh membakar bendera, yang dibakar adalah benderanya, tapi kalimat tauhid akan terus menghujam di hati mereka. Wallahu a’lam. Amin ya rabbal ‘alamin, dan saudaraku yang lain yang merasakan sakit yang sama semoga bisa bersabar dengan kejadian ini. Bisa terus saling mendoakan agar hidayah Allah selalu untuk kita.

Untuk pihak-pihak yang setuju bendera itu dibakar, sudahlah, apa yang terjadi sekarang sudah cukup menyakitkan kami. Jangan ditambah lagi dengan menyudutkan kami dengan mengatakan “Sekarang semua pada sok alim dengan memasang bendera tauhid dimana-mana.” Berhusnudzonlah selalu. Kami juga saudaramu. Bendera tauhid dijadikan profil atau dipasang-pasang dimana bisa jadi karena benar kecintaan mereka terhadap Rabbnya. Dalamnya hati siapa yg tahu? Bukankah tugas kita hanya husnudzon?

Wallahu a’lam, afwan.



EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search