Memahami Takdir

- Oktober 26, 2018


Syaikh Mutawalli Asy-Sya’rawi dalam bukunya Ar-Rizqu, membuat tamsil yang indah tentang bagaimana Allah mentakdirkan surga dan neraka kepada hambaNya. Jika seorang dosen, tulis beliau, mengatakan bahwa salah seorang mahasiswanya akan lulus (misal Si A), kemudian ternyata Si A benar-benar lulus, itu karena pengetahuan mendalam sang dosen terhadap mahasiswanya. Ia tahu Si A selalu sungguh-sungguh, selalu belajar dengan tekun, nilai-nilainya selalu memuaskan. Dosen tersebut juga telah bergaul akrab dengannya. Jadi bukan karena si dosen memiliki ilmu ghaib!

Nah, jika seorang dosen saja bisa meramalkan mahasiswanya lulus lewat pengamatan, bagaimana dengan Allah yang menciptakan kita? Yang ilmuNya tak terhingga, Yang Mengetahui awal dan akhir? Allah mengetahui yang tampak dan tidak tampak, yang lahir dan yang batin. Sehingga layak bagi Allah mengetahui tempat kembali setiap hambaNya.

Tiap manusia diberiki kesempatan untuk memilih jalan hidupNya. Sementara Dia sudah memberikan rambu-rambunya. Jika mengikuti rambu-rambu itu maka insya Allah akan selamat. Tetapi jika sebaliknya, Allah menyediakan api neraka yang menyala-nyala. Allah tak pernah mendzalimi hambaNya. Tetapi manusia yang sering mendzalimi dirinya sendiri.

Seperti contoh kisah Abu Lahab, yang diancam masuk neraka yang menyala-nyala pada saat ia masih hidup. Dan firman Allah benar adanya. Abu Lahab mati dalam kekufuran. Apakah lantas Abu Lahab tidak dapat memilih untuk kafir maupun beriman. Ia mendapatkan pilihan itu. Tetapi dengan kesadaran penuh ia memilih kekufuran. Sementara Allah, Maha Mengetahui yang ghaib. Allah telah mengetahui bahkan setiap gerak jiwa kita yang telah lalu maupun yang akan datang. Allah tahu kesudahan Abu Lahab. Buktinya, turunnya ayat itu tak lantas membuat Abu Lahab beriman. Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Lebih jauh, Zakir Naik mengatakan dalam ceramahnya, kehidupan ini ibarat ujian. Dan sebagaimana ujian, kita tidak diberitahu kunci jawabannya. Kita hanya diberi petunjuk hingga bisa menyelesaikan ujian dengan baik. Jika kita mengikuti petunjuk maka insya Allah kita lulus. Namun jika kita mengabaikannya, kita akan tersesat. Manusia tinggal memilihnya, dan manusia pun tahu akhir dan kesudahannya.

Coba tanyakan pada pencuri, apakah mereka bilang mencuri itu baik. Tentu tidak. Mereka mengatakan bahwa mencuri itu dimurkai Allah. Mencuri itu berdosa. Dan orang yang berdosa tempatnya di neraka. Lalu mengapa mereka mencuri? Itu adalah pilihan yang mereka ambil. Mereka menukar dunia dengan akhirat. Keimanan mereka lemah karena tak percaya bahwa Allah telah menyediakan rezeki yang halal bagi setiap hambaNya. Keyakinan mereka lemah terhadap hari akhir. Keyakinan mereka lemah terhadap yaumil hisab, lebih-lebih terhadap surga dan neraka. Bukan tak percaya. Tapi lemah. Karena lemahnya iman itu, hawa nafsu yang ditunggangi setan menjadi pemenangnya. Dan terjadilah kemaksiatan itu.

Jadi, jangan menyalahkan Allah atas apa yang kita pilih sendiri. Ilmu Allah sejak azali, sejak manusia belum diciptakan. Allah mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi. Termasuk tempat kembali kita. Surga atau neraka. Tugas kita hidup di dunia, adalah melangkah dengan benar untuk menuju surga. Harus berusaha sekuat tenaga. Mintalah pertolongan pada Allah agar ditetapkan hati untuk istiqamah di jalan-Nya.[rafif]

gambar: depokpos.com


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search