Kenali Trauma Psikologis dan Langkah Post Traumatic-Growth

- Oktober 08, 2018
Oleh Sinta Yudisia (Psikolog, Penulis)

Gempa Lombok dan tsunami yang menerjang Sulawesi Tengah, meluluhlantakkan Palu dan Donggala serta daerah sekitarnya, membuat ribuan atau bahkan jutaan orang bertanya-tanya: benarkah mereka yang terpapar psikisnya secara sangat ekstrim dapat sembuh seperti sediakala?

Kita dapat bayangkan bagaimana kengerian yang ditimbulkan:
· Menyaksikan saudara dan teman, tiba-tiba tertimpa reruntuhan bangunan lalu tewas seketika
· Menyaksikan para korban mengalami luka tubuh lalu mereka meninggal dalam perjalanan
· Menyaksikan rumah, sekolah, pusat perbelanjaan dan rumah sakit serentak hancur. Hanya dalam hitungan jam. Kemarin, pekan lalu, bulan lalu bersama keluarga masih menikmati kehangatan sembari menatap langit dan matahari tenggelam di Talise. Lalu semua tiba-tiba lenyap begitu saja?

Berikut adalah paparan singkat tentang apakah trauma, dampak dan cara penanggulangannya.
Trauma, adalah kondisi tiba-tiba yang melibatkan kejutan emosi luarbiasa, kejadian yang sangat menekan, dan kondisi sakit atau luka pada fisik. Dalam istilah ilmiah merupakan gabungan emotional shock, stressful event and physical injury. Hal ini semisal bencana alam seperti gempa, tsunami atau perang, kecelakaan, korban kriminalitas dan sejenisnya.

Apa akibatnya?
Korban dapat mengalami neurosis seperti depresi, atau anxiety (kecemasan) sangat parah.
Apa tandanya?
Tanda-tanda fisik yang mudah terlihat lelah, tegang, dada berdegup kencang, bahkan tremor. Gelisah, sulit tidur, keringat dingin juga mungkin terjadi.

Tanda-tanda psikis seperti ketakutan tak masuk akal terhadap suara yang dianalogikan mirip. Misal suara air = suara air bah. Suara langkah kaki = suara gemuruh tsunami. Suara lari = suara kerumunan massa menjauhi bencana. Atau bahkan ketakutan terhadap hal-hal yang dianggap mirip. Takut masuk tenda, karena dianggap sama dengan ruangan tempatnya mengalami kecelakaan gempa.
Tanda psikis yang lain adalah sangat sensitif dan sangat emosional.
Bila individual dengan ciri psikis sama ini berkumpul, dapat membentuk massa. Massa dapat membentuk crowd dan dapat timbul kejadian tak diharapkan seperti penjarahan.

Struktur Neuro-psikologis
Bagian terpapar dari otak akibat kejadian traumatis adalah hippocampus dan amygdala. Hippocampus bertanggung jawab terhadap memory (ingatan) baik short term memory atau long term memory. Hippocampus juga bertanggung jawab terhadap spatial-navigation.

Mereka yang trauma, seringkali mengalami gangguan di bagian ini sehingga mana ingatan jangka panjang, mana yang jangka pendek tumpang tindih. Termasuk spasial. Ketika gempa yang dialaminya saat ia tengah berada di ruang kantor, ia bisa saja salah mengenali dan mengatakan bahwa semua ruangan sama dengan ruang kantornya. Meski dalam kenyataannya jauh berbeda.

Amygdala, yang terletak dekat hippocampus juga terimbas. Amygdala bertanggung jawab terhadap situasi emosi manusia termasuk sifat agresif. Dengan terpengaruhnya amygdala, orang menjadi sangat emosional ketika peristiwa traumatik belum disembuhkan. Ia bisa jadi sangat sedih, meraung tak habis-habis, atau sangat agresif bahkan brutal. Kondisi kesedihan dan kemarahan yang teramat sangat ini membuat psikis korban trauma menjadi sangat rentan untuk mengalami gangguan.

Bila kondisi neurosis sangat parah, tentu obat-obatan antidepresan atau yang disarankan psikiater sangat dibutuhkan.

PTSD dan PTG
Post Traumatic Stress Disorder atau PTSD yang menimpa para korban trauma, dapat dioptimalkan dengan menciptakan Post Traumatic Growth.
Apa yang harus dilakukan pikolog, konselor, relawan dan masyarakat?

1. Personal strength – kekuatan personal. Temukan dalam setiap individu baik korban atau relawan kekuatan pribadi masing-masing. Baik fisik maupun psikis. Yang jago memerintah, dipersilakan jadi tactical leader untuk mengkoorodinir bantuan. Yang lembut hati, diminta untuk menjadi bahu bagi para korban , just like a shoulder to cry on. Yang kuat fisik, segera terjun ke dapur umum. Yang pintar cerita, segera minta untuk menghibur anak-anak. Yang luwes bekerja, segera tunjuk untuk melayani manula. Pendek kata, dalam situasi ekstrim, kekuatan individu biasanya justru muncul.

2. New Possibilities – korban dan relawan harus melihat reprioritization. Apa pritoritas utama? Sekolah dan bekerja? Atau apa? Prioritas utama adalah bertahan hidup dengan makanan seadanya. Tidak perlu berpikir dulu: kerjaku gimana? Gajiku gimana? Di daerah pengungsian ciptakan kemungkinan-kemungkinan baru: menyemai biji tomat atau cabe, merawat anak kucing, menggendong bayi menangis. Apapun pekerjaan yang selama ini tak pernah dilakukan, lakukan! Biasanya di titik ini, art therapy bermain. Writing therapy, drama therapy, atau art therapy lainnya. Mainkan. Bagikan kepada korban kertas untuk menulis, menggambar, origami. Bahkan bila tersedia media seperti kain atau kanvas, melukiskalah dengan alat apapun. Pensil, arang, minyak, tomat, kunyit. Lukisan atau tulisan. yang dihasilkan sejak hari pertama di pengungsian hingga hari terakhir, akan menjadi jejak healing yang luarbiasa. Termasuk di dalamnya membaca buku, baik buku umum atau buku agama.

3. Relating to others – bicaralah dan interaksi dengan orang di sekitar. Siapapun mereka, tak perlu mengenal lebih dahulu. Tanyakan nama, asal dan kondisi kesehatannya. Ucapkan syukur bahwa kita bersama masih hidup. Hidup masih menyajikan banyak harapan, impian, kebahagiaan. Kehidupan di pengungsian yang penuh keterbatasan, akan memunculkan rasa kasih dan kepedulian pada sesama.

4. Appreciation of Life – peristiwa traumatic yang menyisakan korban selamat biasanya justru menghadirkan survivor atau penyintas yang luarbiasa tangguh! Setelah ratapan dan raungan itu dapat dilepaskan; muncul kepribadian baru yang lebih tahan banting. Hargai nilai positif apapun dari hidup : kaki yang masih dapat berjalan, indera yang masih sempurna. Kesempatan untuk melihat matahari terbit. Kesempatan untuk masih mendengar Quran,adzan, nyanyian anak-anak. Syukuri bahwa di antara segala keterbatasan, masih berada di Indonesia yang dikelilingi saudara-saudara yang peduli. Walau bantuan terlambat datang, tetaplah berpikir positif. Bantuan tak henti mengalir bagi korban.

5. Spiritual Change – perubahan spiritual menjadi lebih meningkat. Mengapa ini terjadi padaku? Mengapa aku mengalami semua ini? Kenapa aku harus menderita? Harusnya aku tidak berada di tempat itu. Dan seterusnya. Letupan perasaan itu pasti timbul. Sebagai manusia, hal wajar bila kepedihan dan kesedihan menyebabkan kelumpuhan motivasi. Dengan kekuatan spiritual untuk menemukan jawaban : ternyata Tuhan memilihku untuk hidup demi sebuah alasan mulia dan tanggung jawab yang besar, hidup akan kembali merekah dan berbunga. Mereka yang meninggal telah tuntas tugasnya. Tetapi yang masih dibiarkanNya hidup, berarti bersiap mengemban amanah mulia.


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search