Tujuh Cara Mengenali Aib Diri

- September 26, 2018
Aib, seringkali menjadi sesuatu yang menarik untuk digunjingkan. Tapi jika itu menyangkut aib atau keburukan orang lain. Bagaimana jika aib diri sendiri? Hampir semua orang pasti tidak suka mengabarkannya pada siapa pun.

Malah, banyak sekali manusia yang tak menyadari aib-aib dirinya, atau ada yang tahu tapi berusaha menyembunyikan rapat-rapat sembari mencari dalil-dalil pembenaran. Membuka aib orang lain memang jauh lebih mudah daripada merunungi dalam-dalam tentang keburukan diri sendiri.

Padahal sejatinya, dengan mengetahui aib-aib diri akan menjadi jalan untuk tazkiyatun nafs, untuk membersihkan diri. Dengan menyadari tentang aib-aib diri akan lebih mudah untuk bertaubat, memperbaiki kesalahan, menjaga agar tak kembali terjerumus ke lubang yang sama, untuk selanjutnya berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.

Lalu bagaimana agar aib-aib diri bisa dikenali sejak dini, sebelum ia membesar, menjadi kebiasaan dan berbuah penyakit yang menggerogoti hati. Inilah tujuh hal yang sebaiknya dilakukan:

1. Mencari sahabat sejati.
    Sahabat sejati tidak hanya akan merasa bahagia saat engkau bahagia atau sedih saat engkau bersedih. Jauh daripada itu, sahabat sejati akan selalu mengajak pada kebaikan dan mengingatkan ketika engkau melakukan kesalahan. Bukan karena benci, tapi karena tak ingin kelak engkau menderita di neraka. Sahabat sejati akan berterus terang tentang aib-aibmu, akan menasihati dengan baik di saat hanya berdua. Janganlah memarahinya, justru engkau harus berterima kasih padanya.

2. Mencari tahu tentang pandangan teman dan tetangga.
    Tetangga atau teman mungkin adalah yang paling dekat denganmu namun tetap bisa menjaga netralitasnya dalam bersikap. Berbeda dengan saudara atau keluarga yang biasanya lebih banyak memuji. Cari tahu apa yang dikatakan tetangga dan temanmu di saat engkau tak ada di sana. Desas-desus apa yang berhembus. Hal-hal negatif apa yang menjadi bahan perbincangan tentangmu.

3. Mencari tahu tentang pandangan musuh.
    Biasanya, musuh akan selalu mencari aib-aibmu. Ia akan terus memburu keburukan-keburukanmu untuk disebarluaskan. Cari tahu apa yang ia katakan tentangmu. Meski tidak sepenuhnya benar, bisa jadi itu akan menjadi bahan evaluasi bagimu.

4. Membayangkan perbuatanmu dilakukan orang lain.
    Bayangkan kebiasan-kebiasanmu dilakukan oleh orang lain, dan jadilag engkau sebagai subjek yang mengamati perilakunya. Jika menurutmu itu tidak pantas berarti itulah aibmu. Terkadang manusia tidak netral, ketika melakukan kesalahan akan sangat mudah beralibi dan memaafkan tetapi jika kesalahan itu dilakukan orang lain, barulah memvonis, sebagai hakim bahwa itu adalah kesalahan. Seakan-akan yang berbicara tak pernah melakukan kesalahan yang sama.

5. Memikirkan dampak perbuatannya.
    Setiap keburukan yang dilakukan pasti akan memberikan dampak yang buruk bagi diri sendiri. Oleh karena itu, sebelum melakukan perbuatan itu lagi, pikirkanlah terlebih dahulu, apakah ia mendatangkan dampak yang positif atau negatif. Jika engkau jujur terhadap pikiranmu maka kau akan mengenali aib sebagai aib yang harus dijauhi.

6. Mengerjakan segala hal dalam bingkai syariat.
    Selain akal sehat, yang menjadi pertimbangan dalam berbuat adalah syariat yang telah diturunkan. Dari sanalah akan tersingkap kebenaran dan kebaikan. Sesuatu yang menyimpang darinya adalah aib yang terlarang.

7. Membaca riwayat hidup orang-orang shalih.
    Dengan membaca kisah-kisah mereka, akan dapat membandingkan dengan diri sendiri, seberapa jauh telah berbuat kebaikan. Bahkan tidak bersegera berbuat baik ketika ada peluang untuk melakukannya adalah termasuk juga aib yang harus dijauhi. Selain itu, membaca kisah orang-orang shalih akan memotivasi diri untuk memperbanyak melakukan amal-amal kebaikan. (@RafifAmir)


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search