Tak Ada Ikhwah yang Tak Retak

- September 26, 2018

Pernahkah engkau kagum pada seseorang, namun tiba-tiba kekaguman itu hilang, bahkan berganti dengan kebencian dan dendam?

Judul tulisan ini diambil dari sebuah buku Sudahkah Kita Tarbiyah? karya Eko Novianto, salah seorang kader PKS Yogyakarta. Mari kita hargai ikhwah karena keunggulannya, kata beliau dalam bukunya, bukan menilai ikhwah dari kelemahannya. Permasahannya, apakah semua orang bisa berbuat seperti demikian?

Untuk sang pengagum:

Bagaimanapun, dalam sebuah jamaah manusia, kesalahan adalah sebuah keniscayaan. Tak akan ada seorang pun yang tampil sebagai malaikat tanpa sedikitpun khilaf dalam tindakannya. Inilah konsep dasar yang perlu kita pegang bersama. Bahkan seorang ikhwah pun yang dikatakan sebagai manusia “luar biasa” dalam aktivitas dakwahnya, mungkin mengalami sebuah permasalahan keluarga yang pelik. Seorang ikhwah yang mungkin sangat disiplin, ternyata kurang berhasil menjadi murabbi yang baik.

Seorang ikhwah yang memiliki prestasi akademik tinggi, namun ternyata memiliki kepekaan sosial yang rendah. Semua orang memiliki kelebihan dan kekurangan, tinggal bagaimana kita melejitkan kelebihan dan meminimalisir kesalahan.

Kita sadari bersama, bahwa kesalahan-kesalahan yang terjadi dalam jamaah manusia adalah hal yang biasa. Tinggal bagaimana cara kita melihat kesalahan yang ada, tentu dengan sudut pandang yang berbeda. Seorang ikhwah yang memilki 'jam terbang' tinggi dalam aktivitas dakwahnya seringkali mengkritik ikhwah yang dianggap memiliki banyak waktu luang. Seorang ikhwah yang berprestasi akademik tinggi seringkali menyindir ikhwah yang lulusnya molor, dan lain sebagainya. Jika semuanya diukur dalam sudut pandang kita, maka kekurangan akan tampak semakin besar dan kelebihan akan tampak sebagai hal yang biasa atau wajar-wajar saja.

Untuk yang dikagumi:

Terkadang rasa kagum yang berlebihan terhadap ikhwah bisa mengakibatkan kekecewaan yang besar, dan biasanya penyebab paling mendasar adalah tentang pudarnya integritas, kesesuaian antara yang
diucapkan dan yang dilakukan. Semisal aturan-aturan yang dibuat sendiri dan sekaligus dilanggar sendiri, melanggar janji, menetapkan sebuah keputusan yang kemudian 'terpaksa' dilanggar dengan berbagai macam pembenaran. Kekecewaan itu akan berakibat fatal jika kemudian menimpa objek dakwah kita. Mereka yang semula merasakan senang bergaul dengan kita, merasa menemukan permata berharga di tengah-tengah semakin langkanya teladan, rasa kagum yang semula dilekatkan pada diri kita tiba-tiba berubah menjadi rasa benci bahkan dendam yang berujung pada timbulnya fitnah terhadap pribadi ikhwah dan jamaah. Tanpa disadari, keretakan-keretakan yang kita buat itu telah menyebabkan timbulnya qadhaya baru yang cukup serius.

Memang sulit menjaga integritas. Namun justru karena integritaslah seorang ikhwah dicintai dan dikagumi oleh saudaranya. Semakin pudar sebuah integritas yang melekat dalam diri kita, maka semakin pudar juga rasa hormat dan cinta mereka pada kita.


sumber gambar: rumah123.com


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search