Suasana Mencekam dan Haru Menjelang Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

- Oktober 01, 2018

Jepang telah menyerah kalah pada sekutu. Ledakan dahsyat yang menguncang kota Hiroshima dan Nagasaki menyebabkan urat nadinya nyaris putus. Dengan cepat kabar itu menjalar ke seluruh sudut dunia, termasuk Indonesia. Mula-mula, salah satu aktivis golongan muda, Sutan Sjahrir yang membawanya. Sjahrir melihat bahwa kekalahan Jepang adalah pintu masuk bagi kemerdekaan Indonesia. Maka, ia pun mendesak Bung Karno untuk segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.
Bung Karno menolak. Ia dan Bung Hatta lebih memilih cara-cara diplomasi melalui Panitian Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang telah dibentuk oleh Jepang. Apalagi Bung Karno dan Bung Hatta adalah ketua dan wakil ketuanya. Selain itu, Bung Karno mengkhawatirkan terjadinya pertumpahan darah jika proklamasi segera diumumkan sebagaimana desakan Sjahrir dan golongan muda lainnya. Sebaliknya, golongan muda berpendapat bahwa jika kemerdekaan diperoleh lewat PPKI itu artinya kemerdekaan Indonesia adalah hadiah dari Jepang, mereka menolak itu.
Sebagaimana dikutip dari republika.co.id (17/8/2013), malam hari pada tanggal 15 Agustus 2017, golongan muda yang dipimpin oleh Chairul Saleh mengadakan rapat di Jl Pegangsaan Timur No.17. Keputusannya, mereka harus mendesak Bung Karno agar mengumumkan kemerdekaan keesokan harinya, yakni tanggal 16 Agustus 2017. Maka diutuslah Wikana dan Darwis untuk menyampaikan hal itu.

Dengan berapi-api mereka mengatakan, "Kita kobarkan revolusi, Bung!" Namun Bung Karno tetap bersikeras menolak. Wikana mengancam bahwa esok hari akan terjadi pertumpahan darah jika Bung Karno tetap keukeuh dengan pendiriannya. Mendengar hal itu, Bung Karno naik pitam, ia marah luar biasa. "Ini batang leherku," katanya, "Potonglah leherku malam ini juga!" Bung Hatta tak kalah keras berkata pada Wikana, "Jika saudara merasa telah siap dan sanggup memproklamasikan kemerdekaan, kenapa Saudara tidak memproklamasikannya sendiri? Mengapa meminta Soekarno melakukan hal itu?"
Para pemuda tetap tidak puas. Dini hari sekitar pukul 04.00, sebagaimana dilansir setneg.go.id (9/8/2017), mereka menculik Bung Karno dan Bung Hatta, lalu membawanya ke Rengasdengklok. Perdebatan antara golongan muda dengan Bung Karno dan Bung Hatta kembali terjadi. Bung Karno pada akhirnya menyampaikan bahwa ia menginginkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, tepat di Jumat yang suci.
Golongan muda dengan jaminan dari Ahmad Soebardjo akhirnya bersedia melepas Bung Karno dan Bung Hatta untuk kembali ke Jakarta. Di rumah Laksamana Maeda, mereka merumuskan teks proklamasi.
Jumat, 17 Agustus 1945, pukul 10 pagi di rumah Soekarno, Jl Pegangsaan Timur 56, adalah saat yang dinanti-nantikan oleh seluruh rakyat Indonesia. Bung Karno didampingi Bung Hatta tampil untuk menyampaikan pidatonya, sebagaimana diabadikan oleh Koesnodiprodjo dalam bukunya Himpunan Undang-Undang, Peraturan-Peraturan, Penetapan-Penetapan Pemerintah Republik Indonesia 1945(Jakarta,1951):
"Saudara-saudara sekaliansaya telah minta saudara hadir di sini, untuk menyaksikan suatu peristiwa maha penting dalam sejarah kita. Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia  telah berjuang untuk kemerdekaan tanah air kita. Bahkan telah beratus-ratus tahun. Gelombangnya aksi kita untuk mencapai kemerdekaan kita itu ada naiknya ada turunnya. Tetapi jiwa  kita tetap menuju ke arah cita-cita. Juga di dalam jaman Jepang, usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak berhenti. Di dalam jaman  Jepang ini tampaknya saja kita menyandarkan diri kepada  mereka. Tetapi pada hakekatnya, tetap kita menyusun tenaga kita sendiri. Tetap kita percaya pada kekuatan sendiri. Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil  nasib bangsa dan nasib tanah air  kita  di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang  berani mengambil nasib dalam tangan  sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya. Maka kami, tadi malam telah mengadakan musyawarah dengan pemuka-pemuka rakyat Indonesia dari seluruh Indonesia , permusyawaratan itu seia-sekata  berpendapat,  bahwa sekaranglah  datang saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita.
Saudara-saudara! Dengan ini kami menyatakan kebulatan  tekad itu. Dengarkanlah Proklamasi kami: PROKLAMASI; Kami  bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia . Hal-hal  yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Jakarta , 17 Agustus 1945. Atas nama bangsa Indonesia Soekarno/Hatta.
Demikianlah saudara-saudara! Kita sekarang telah merdeka. Tidak ada satu ikatan lagi  yang mengikat tanah air kita dan  bangsa  kita! Mulai saat  ini kita menyusun  Negara  kita!  Negara Merdeka.  Negara Republik Indonesia  merdeka, kekal, dan abadi. Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu".
dr. Soeharto, dokter pribadi Soekarno, mengungkapkan bahwa suasana haru tak terbendung saat itu. Berikut penuturannya sebagaimana dikutip dari Majalah Sarinah (No.50/9-22 Agustus 1982): "Suasana begitu mencekam perasaan, tidak seorang pun dapat menyembunyikan perasaan harunya. Tidak ada yang tidak meneteskan air mata, saat dinaikkannya Bendera Sang Saka Dwi Warna, saat dikumandangkannya lagu yang dibawakan, semua suara keluar berbaur dengan suara tangis. Bagaimana tidak ada getaran emosional yang meletup-letup dalam dada, kemerdekaan akhirnya didapatkan juga, setelah tiga setengah abad lamanya terbelenggu dalam penjajahan. INDONESIA MERDEKA! INDONESIA MERDEKA! Betapa merdu kata-kata itu."

Sumber gambar: jogja.tribunnews.com


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search