Misteri Ruh Manusia

- September 16, 2018

Di dalam Fannul Istimta, Dr. Tawfik A. Al-Kusayer memberikan contoh kongkret bagaimana ruh, otak, dan jasad bekerja secara sinergis untuk kehidupan. Beliau memberi contoh seorang suami yang seharian bekerja di kantor dan merasa lelah ketika sampai di rumah. Setibanya di rumah, sang istri menyambut dengan senyum, pakaian yang bagus, parfum yang wangi, dan sapaan hangat. Semua itu ditangkap oleh indera suami yang berupa pendengaran, penglihatan, dan penciuman dan diteruskan ke otak. Otak akan menganalisa informasi tersebut dan membandingkannya dengan informasi yang telah sampai lebih dulu. Bisa jadi wangi parfum sang istri sama persis dengan yang digunakan
saat memadu kasih di malam pertama, maka otak akan menemukan sinyal yang saling berkolerasi itu, untuk selanjutnya mengirimkannya kepada ruh yang akan mendapatkan reaksi perasaan bahagia. Reaksi ini diteruskan kembali ke otak yang akan dilanjutkan berupa instruksi kepada jasad misalkan berupa rangkulan mesra untuk sang istri tercinta. Begitulah ruh bekerja.
Namun secara jujur harus kita akui bahwa kita sering mengabaikan keberadaan ruh dalam diri kita. Yang kita nomorsatukan selalu mengenai kebutuhan jasad. Makan, tidur, memburu harta dan kekayaan dengan harapan agar bisa menemukan bahagia. Tetapi
kenyataannya, terkadang yang didapatkan justru kesedihan dan kesengsaraan. Begitulah, akibat kita tidak memahami eksistensi ruh di dalam diri kita sendiri.
Mungkin hanya sebagian kecil saja, dan itu sudah termasuk yang dilakukan oleh pakar dari China dan India selama lebih dari 3000 tahun. Mereka melakukan kajian bagaimana cara untuk merevitalisasi ruh, dan memanfaatkannya untuk perbaikan kualitas hidup. Sebenarnya tanpa disadari, sarana-sarana untuk mengoptimalkan eksitensi ruh ini sudah dilakukan sejak lama, yaitu dengan cara perenungan, menyendiri,
menjauhi kebisingan baik dari luar maupun dari dalam pikiran. Orang Islam mungkin menyebutnya sebagai ‘uzlah, atau ada juga yang menyebut semedi atau meditasi, dan lain sebagainya. Yang jelas dalam hal ini fokus menjadi tujuan utama.
Tetapi yang demikian sebagian dari kita jarang melakukannya. Itu karena kita menganggap bahwa sumber kebahagiaan maupun kesedihan adalah terpenuhi atau tidaknya kebutuhan jasad. Setiap saat kita berusaha memanjakan jasad dan lupa bahwa ruh juga butuh perhatian yang sama. Akibatnya terjadi ketimpangan dalam diri kita sendiri yang bermuara pada hilangnya makna hidup.
Nanti, ketika kita tutup usia, dan jasad sudah terurai dalam tanah, baru kita akan tahu bahwa diri kita yang sesungguhnya adalah ruh itu. jasad hanyalah perantara saja agar ruh bisa melaksanakan tugas-tugas kehidupan. Semoga kita bukan termasuk orang-orang yang menyesal.

sumber gambar: konsultasisyariah.com


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search