Manuver PKI dalam Sidang Konstituante

- September 16, 2018
Setelah melalui pedebatan sengit, akhirnya rumusan dasar negara mengerucut pada dua opsi. Opsi pertama yang setuju Islam sebagai dasar negara, yang dipelopori Masyumi, sedangkan opsi kedua yang dipelopori PNI. PNI dan Masyumi adalah 2 besar partai pemenang Pemilu 1955. Meski masyumi kalah tipis berdasarkan jumlah suara, namun jumlah kursi di DPR sama yaitu 57 kursi. Tetapi di Konstituante, PNI meraih 119 kursi, sementara Masyumi hanya 112 kursi, menyusul kemudian partai NU dengan 91 kursi.

Karena musyawarah mufakat tidak tercapai, maka dilakukanlah voting. Opsi pertama yang menyetujui Islam sebagai dasar negara mendapat 205 suara, sedangkan opsi kedua yang menyetujui Pancasila sebagai dasar negara mmeperoleh 252 suara. 252 suara itu termasuk suara PKI dan Partai Murba pimpinan Tan Malaka. sedangkan di kubu Masyumi ada Partai NU (yang konon, sekarang menjelma PKB), PSII, dan partai kecil lainnya.

Dengan perolehan demikian, tidak otomatis opsi kedua sebagai pemenang. Karena ada syarat pengambilan keputusan harus disetujui 2/3 anggota forum. Syarat itu tidak terpenuhi. Sebenarnya Masyumi sudah mau kompromi, dengan menerima pancasila tapi dengan tafsiran sila pertama yaitu "ketuhanan yang Maha Esa"  dengan tafsiran agama-agama Islam, Kristen, Buddha dan Hindu. Mengapa? karena PKI juga memiliki tafisran yang berbeda tetang sila pertama. Bagi PKI, sila pertama itu bisa dimaknai sebagai kebebasan beragama, yang artinya kebebasan pula untuk tidak beragama atau tidak ber-Tuhan. Demikian pula dengan sila-sila yang lainnya. PKI secara ideologi harusnya memang tidak mendukung Pancasila, ia sebaiknya mengusulkan komunisme sebagai dasar negara, tapi mereka sadar tidak akan bisa menang. Maka mereka merapat pada opsi kedua demi menjegal langkah masyumi dan kawan-kawan.

Karena belum terpenuhi syarat, sidang konstituante menemui jalan buntu dan tidak menghasilkan keputusan. Sampai kemudian dikeluarkannya dekrit oleh Presiden Soekarno yang isinya membubarkan konstituante dan menyerukan kembali ke UUD 1945.(@RafifAmir)


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search