Lekra dan Perang Tanding Kebudayaan

- Oktober 01, 2018
Kongres Kebudayaan di Solo tahun 1924 menjadi saksi bagaimana benih-benih "Lekra" secara ideologis sudah tertanam. Mereka ingin "menghabisi" budayawan-budayawan muslim dan nasionalis, dengan target merebut pimpinan Kongres Kebudayaan.

Beberapa pemuda berusia sekitar 20-25 tahun menyerang dua pembicara, yaitu Mr Soenaryo Kolopaking dan Mangunsarkoro yang merupakan tokoh PNI. Mereka adalah pemuda-pemuda berjiwa komunis yang secara membabi buta mengolok-olok tidak hanya muatan yang disampaikan kedua tokoh tadi, tapi juga pribadi-pribadi beliau dengan kata-kata tak senonoh.

A.R Baswedan yang ikut hadir dalam kongres, geram menyaksikan tingkah anak-anak muda itu. Tahun 1950, Lekra berdiri secara organisasi. Maka dia menyerukan kepada angkatan-angkatan muda Islam untuk membentuk lembaga kebudayaan yang menandingi Lekra. Ia juga mendesak PP Muhammadiyah untuk memperhatikan soal kebudayaan sehingga dapat menangkal pengaruh-pengaruh komunis.

Usaha A.R Baswedan gagal. Namun kemudian, muncullah Teater Muslim di Yogyakarta yang dipelopori oleh Diponegoro tahun 1961. Karyanya yang berjudul "Iblis" cukup sukses dan dipentaskan dimana-mana, bahkan saat dipentaskan di Madiun, wali kota Madiun yang komunis mengakui kehebatannya.

Setelah Teater Muslim, setahun berikutnya, menyusul lahir Lesbumi (Lembaga Seniman Budayawan Indonesia) dari rahim NU. Maka semakin kuatlah posisi budayawan-budayawan muslim untuk menandingi Lekra.

Dewasa ini, budayawan-budayawan muslim tumbuh bak cendawan di musim hujan, namun aktivitis-aktivitis berhaluan Lekra pun tak benar-benar mati. Meski tak hadir secara kelembagaan, pemikiran dan ciri-ciri khas mereka seringkali tampil ke permukaan, mewarnai dinamika perjalanan kesusatraan Indonesia.

Seperti yang bau-baru ini heboh di jagad maya. Saat Tere Liye "keseleo" dalam menulis status yang isinya seolah meniadakan peran komunis dalam perjuangan membangun Indonesia, mereka yang berhaluan Lekra langsung mencak-mecak, nyinyir, bahkan meluas hingga mengumpat pribadi Tere Liye dan karya-karyanya.

Bukankah ini mirip dengan yang terjadi saat Kongres Kebudayaan tahun 1924. Mereka akan terus menyerang seniman dan budayawan Islam, begitu melihat celah "kesalahan" sekecil apapun. Sebelum Tere Liye sudah banyak sastrawan dan budayawan yang menjadi sasaran mereka, misal soal isu plagiarisme Taufiq Ismail yang sempat menjadi perdebatan dan ternyata tidak terbukti. Atau soal Buya Hamka yang dituduh memplagiat karya Al Manfaluthi atas novelnya Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang terus dihembuskan sampai saat ini untuk merusak citra kepengarangan beliau.

Jelas sekali, pertarungan di ranah kebudayaan tak bisa dianggap enteng. Mereka yang berhaluan Lekra, harus diakui adalah penulis-penulis dan pembaca-pembaca buku hebat. Mereka sangat concern terhadap dunia literasi, bahkan mereka pun mendirikan penerbitan, komunitas penulis, dan masuk mewarnai dewan kesenian yang notabene berplat merah.

Jika lengah, maka suatu saat habislah seniman-sastrawan Islam dalam laga perang tanding kebudayaan. Maka hadirnya organisasi kepenulisan seperti Forum Lingkar Pena (FLP), serta komunitas-komunitas sastra dan budaya lainnya yang berlandaskan Islam menjadi sebuah keniscayaan. Ranah kebudayaan harus terus mendapatkan perhatian, karena kita tidak ingin mereka yang pro-Lekra menguasai jagad kebudayaan. Ujungnya adalah lahirnya kembali komunis atau Komunis Gaya Baru (KGB) ke panggung politik secara terang-terangan. Kita tahu, Lekra punya peranan penting dalam menyukseskan PKI dalam pemilu 1955 juga dalam peristiwa berdarah G30S. Sebelum kejadian memilukan itu, seperti yang ditulis Taufiq Ismail dalam Prahara Budaya, salah seorang seniman Lekra telah meramalkan enam bulan sebelumnya dengan menulis dalam sajaknya, "Kunanti bumi memerah darah." (@RafifAmir)


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search