Kisah Amal Kebaikan yang Ditolak Para Malaikat Penjaga Langit

- September 22, 2018
Ibnu Mubarok meriwayatkan, melalui serangkaian perawi hingga sampai kepada seorang tertentu dan orang tertentu itu bertanya kepada Muadz: Wahai Mu'adz, sampaikanlah kepadaku sebuah hadis yang telah kau dengar dari Rasulullah Saw. Maka berkatalah Muadz: Telah kudengar Rasulullah saw bersabda: 

Akan kusampaikan padamu sebuah nasihat. Jika engkau mencamkannya, maka engkau akan beruntung di hadapan Allah, namun jika engkau melecehkannya, maka pembelamu di hadapan Allah pada hari kebangkitan akan sia-sia. Wahai Muadz, hadis itu ialah: 
Sungguh Allah itu menciptakan tujuh malaikat sebelum Dia menciptakan tujuh langit dan bumi. Tiap Langit ada satu malaikat yang menjaga pintu. Dan tiap-tiap pintu langit dijaga oleh Malaikat penjaga pintu menurut kadar dan keagungannya.

Maka naiklah malaikat yang memelihara dan mencatat amal seorang hamba (Malaikat Hafadzah) ke langit dengan membawa amal si hamba yang bersinar-sinar cahayanya bagaikan cahaya matahari.

Setelah sampai ke langit pertama, Malaikat Hafadzoh yang menganggap amal si hamba itu banyak, memuji-muji amal-amal tersebut. Akan tetapi, setelah sampai di pintu langit pertama, berkatalah Malaikat penjaga pintu langit pertama kepada Malaikat Hafadzoh; "Dengan amalan ini, tampaklah wajah pelakunya; aku diperintahkan oleh Tuhanku untuk tak mengizinkan amalan seorang pengumpat melewatiku."

Kemudian Malaikat Hafadzah itu naik ke langit lagi dengan membawa amal shalih yang berkilauan cahayanya. Dianggap oleh Malaikat Hafadzoh begitu banyaknya sehingga dipuji-puji. 

Namun begitu sampai ke langit kedua (setelah lolos dari langit pertama sebab si pemilik amal bukan seorang pengumpat). Berkatalah Malaikat di langit kedua; "Berhenti! dengan amalan ini tampaklah wajah pelakunya. Ia beramal karena mengupayakan keharuman duniawi; Tuhanku telah memerintahkanku untuk tak mengizinkan amalannya melewatiku, sebab ia senantiasa memamerkan amalannya; aku adalah malaikat yang mengurusi masalah ke-sukapamer-an."

Ada lagi Malaikat Hafadzoh yang naik dengan membawa amal hamba Allah yang sangat memuaskan. Penuh dengan sedekah, shalat, puasa dan bermacam-macam amal kebaikan yang oleh Malaikat Hafadzah dianggap demikian banyaknya dan dipujinya. Akan tetapi, begitu sampai ke langit ketiga, berkatalah Malaikat penjaga langit ketiga; "Berhentilah dan dengan amalan ini tampaklah wajah pelakunya; aku adalah malaikat yang mengurusi masalah kebanggaan; Tuhanku telah memerintahkan untuk tak mengizinkan amalannya melewatiku, sebab ia membanggakan amalannya di hadapan sesamanya."

Singkatnya, Malaikat Hafadzoh naik lagi ke langit dengan membawa amal hamba yang lain dan bersinar bagaikan bintang yang paling besar. Suaranya gemuruh penuh dengan tasbih, puasa, shalat (wajib dan sunnah), naik Haji, dan 'umroh. Begitu sampai ke langit keempat, dikatakan; "Berhentilah dan dengan amalan ini tampaklah wajah, punggung dan perut pelakunya; aku adalah malaikat yang mengurusi masalah kepongahan; Tuhanku telah memerintahkanku untuk tak mengizinkan amalan orang itu melaluiku, sebab kapanpun ia berbuat kebajikan, ia pun pongah."

Kemudian naik lagi Malaikat Hafadzah dengan membawa amal hamba yang diiring seperti pengantin perempuan yang diiring kepada calon suaminya. Begitu sampai ke langit kelima membawa amal yang begitu bagus, seperti Jihad, Ibadah Haji dan 'Umroh. Cahayanya pun berkilauan bagaikan matahari. Berkatalah Malaikat penjaga langit kelima; "Saya ini penjaga sifat hasud (iri dan dengki). Amalnya demikian bagus, (tetapi) suka hasud (iri dengki) kepada orang lain atas nikmat Allah yang diberikan kepada mereka. Saya diperintahkan oleh Allah jangan membiarkan amalnya itu untuk melewati pintuku."

Kemudian Malaikat Hafadzah naik lagi dengan membawa amal yang lain berupa wudhu yang sempurna, shalat yang banyak, puasa, haji dan umroh yang bercahaya bagai rembulan hingga sampai ke langit keenam dan berkatalah malaikat penjaga pintu itu; "Saya ini penjaga pintu rahmat (kasih sayang sesama makhluk Allah). Amal yang seolah-olah bagus ini tamparkanlah ke wajah pemiliknya! Ia tak pernah menunjukkan rasa kasih-sayang kepada hamba-hamba Allah yang bernasib buruk atau tertimpa penyakit. Tetapi ia malah merasa senang apabila ada orang yang mendapat musibah. Aku diperintahkan oleh Allah agar amalnya ini jangan melewatiku."

Kemudian Malaikat Hafadzah naik lagi dengan membawa amal hamba berupa bermacam-macam sedekah, puasa, shalat, jihad dan wara. Suaranyapun bagai lebah dan bersinar bagai sinar mentari dan dikawal tiga ribu malaikat ke langit ketujuh. Begitu sampai ke langit ketujuhberkatalah malaikat penjaga langit ketujuh; "Saya ini penjaga sum'ah (ingin terkenal/masyhur). Sesungguhnya pemiliknya ini ingin termasyhur dalam kumpulan-kumpulannya (majlis-majlis) dan selalu ingin tinggi (merasa paling terbaik dalam ilmu dan amal) di saat berkumpul dengan kawan-kawannya yang sebaya dan ingin mendapat pengaruh dari para pemimpin. Allah memerintahkan kepadaku agar amalnya itu jangan sampai melewatiku dan jangan sampai kepada yang lain. Dan tiap-tiap amal yang tidak bersih karena Allah. Maka itulah riya'. Allah tidak akan menerima dan mengabulkan amal orang-orang yang riya'."

Kemudian Malaikat Hafadzah naik lagi dengan membawa amal hamba yakni, Shalat, Zakat, Puasa, Haji dan Umroh, Akhlak yang baik dan pendiam, tidak banyak bicara, (selalu) dzikir kepada Allah. Amal inipun diiringi oleh malaikat ke langit ke tujuh sehingga sampailah ke hadhirat Allah SWT.  Para Malaikat itu berdiri di hadapan Allah. Semuanya menyaksikan bahwa amal ini adalah amal yang shaleh, yang ikhlas semata-mata karena Allah.

Akan tetapi Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

"Kalian Hafadzah! pencatat amal hamba-Ku. Sedangkan Aku-lah yang mengetahui hatinya.
Ia tak mengupayakan ridha-Ku dengan amalan ini; ia mengupayakan sesuatu selain-Ku; maka Aku mengutuknya; Maka semua malaikat yang hadir berkata, "Laknat-Mu dan laknat kami atasnya!" Ketujuh langit dan yang ada di sana pun mengutuknya."

Muadz bin Jabal r.a. (yang meriwayatkan hadist ini) kemudian menangis terisak-isak, dan berkata;

"Ya Rasulullah, bagaimana aku bisa selamat dari apa yang kau ceritakan?".

Rasulullah SAW. bersabda : 
  • "Ikutilah aku meski ada ketaksempurnaan dalam tindakanmu. Wahai Muadz, jagalah lidahmu dari mengumpat atau menfitnah saudaramu, yaitu mereka yang membawa (yakni mengimani) Alquran; nisbahkanlah dosa-dosamu kepada dirimu sendiri dan jangan kepada mereka; janganlah engkau nisbahkan kesucian kepada dirimu sendiri; janganlah engkau muliakan dirimu atas mereka; janganlah engkau baurkan kegiatan duniawi dengan kegiatan ukhrawi; janganlah engkau berbangga diri agar orang tak menjauh darimu lantaran watak burukmu; janganlah engkau berbisik-bisik dengan satu orang selagi ada orang lain di antara kamu; janganlah engkau merasa lebih penting daripada orang lain agar hal-hal baik di dunia ini dan akhirat tak menjauh darimu; janganlah engkau cabik-cabik (sifat-sifat) orang agar kelak pada Hari Kebangkitan anjing-anjing neraka tak mencabik-cabikmu di neraka. Allah SWT berfirman, "Demi mereka yang mencabut dengan keras..." Tahukah engkau Wahai Muadz hal-hal ini?" aku bertanya, "Apakah hal-hal itu ya Rasulullah?" Ia menjawab, "Hal-hal itu ialah anjing-anjing neraka yang mencabut daging para penghuni neraka dari tulang-tulang mereka." Aku bertanya: Ya Rasulullah, siapakah yang mampu menyelamatkan diri dari keburukan-keburukan ini? Ia menjawab, "Wahai Muadz, hal itu sungguh mudah bagi siapapun yang diberi kemudahan oleh Allah."


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search