Ketika Ghibah, Namimah, dan Fitnah Menjangkiti Para Aktivis Dakwah

- September 22, 2018

Fathi Yakan dalam bukunya yang berjudul Robohnya Dakwah Di Tangan Da'i mengatakan, "Salah satu faktor yang merusak barisan, mengurai ikatan, dan mengguncang bangunan, adalah lahirnya perilaku suka menggunjing, mengadu domba, mengintai aib orang lain, banyak bicara, dan tersebarnya itu semua tanpa kendali dengan alasan memperbaiki keadaan melalui amar ma'ruf nahi mungkar."

Itulah fenomena yang terjadi saat ini! Ketika para aktivis dakwah yang sejatinya selalu mencari cara untuk memelihara bangunan ukhuwah, tetapi malah asyik ber-ghibah ria dengan menyebarkan aib saudaranya, atau bahkan menyebarkan berita bohong yang tidak jelas asalnya. Tanpa proses tabayyun. Tanpa sebuah usaha untuk selalu memikirkan kebaikan tentang saudaranya.

Sementara musuh-musuh Islam merintis hegemoni besar di negeri ini, para aktivis dakwah meyibukkan diri dengan saling ghibah dan fitnah. Memutus satu-persatu simpul-simpul ukhuwah yang terangkai indah! Na'udzubillah. Telahkah kita lupa dengan firman Allah, "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjing satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." (QS Al-Hujurat 12)

Sangat jelas sekali bagaimana Allah mengingatkan tentang perilaku ghibah. Sangat indah sindiran Allah. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Begitulah Allah membuat sebuah perumpamaan bagi para pelaku ghibah. Maka jawabannya, tentu tak satupun diantara kita yang suka. Tapi anehnya hal itu masih sering dilakukan. Seolah-olah firman Allah tersebut hanya sebuah gertakan.

Ibrahim bin `Adham pernah berkata, "Wahai penduduk Bashrah! Sesungguhnya hati kalian telah mati oleh sepuluh sebab, maka bagaimana mungkin Allah mengabulkan doa kalian." Satu diantara sepuluh faktor tersebut adalah, "Kalian selalu memperhatikan aib orang lain, tetapi tidak mau memperhatikan aib diri sendiri." Lalu bagaimana mungkin Allah mengabulkan do'a para aktivis dakwah untuk memenangkan dakwah di negerinya, di daerahnya, jikalau pada saat yang sama ia masih terus `memakan' bangkai saudaranya? Jauh berbeda dengan doa yang dipanjatkan Rasulullah saw saat perang badar. Pada saat itu Rasulullah saw telah mempersiapkan mental dan hati pasukan muslimin untuk menghadapi perang besar. Sehingga ikatan persatuan yang terjalin semakin melipatgandakan kekuatan.

Kisah tentang beredarnya berita bohong ternyata tidak hanya menimpa aktivis dakwah, bahkan juga sempat merenggangkan hubungan antara Rasulullah saw dan `Aisyah. Suatu ketika dalam perjalanan, `Aisyah tertinggal oleh rombongan. Ibnu Mu'athal yang mengetahui hal itu kemudian mengantarkan beliau. Dari situlah fitnah beredar hingga sampai kepada Rasulullah saw. Rasulullah saw mendiamkan `Aisyah yangn waktu itu sedang sakit. Beliau mengaku tidak lagi mendapatkan kelembutan Rasulullah saw. Fitnah itu begitu kuat hingga akhirnya `Aisyah pulang ke rumah orang tuanya. Akhirnya diketahui bahwa salah satu penyebar fitnah itu adalah Abdullah bin Ubay bin Salul dari kabilah Khazraj. Mendengar itu, Usaid bin Hudhair dari kabilah Aus mengatakan hendak memenggal pelakunya jika pelaku tersebut berasal dari kabilah Khazraj. Hal ini hampir saja memicu perang dua kabilah. Aus dan khazraj. Kemudian Rasulullah mendatangi `Aisyah dan mengajaknya bertaubat kepada Allah. `Aisyah menangis dan bersumpah bahwa ia tidak pernah melakukan seperti yang dituduhkan orang-orang. Hingga kemudian turun ayat dalam surat Nuur ayat 11 yang memperkuat pernyataan `Aisyah.

Begitulah dampak dari sebuah fitnah yang bermula dari prasangka dan ghibah. Bagaimana jika hal itu menimpa aktivis dakwah? Maka efeknya akan jauh lebih besar dari sekedar renggangnya ukhuwah. Bahkan bisa berakibat runtuhnya bangunan dakwah.

Imam Nawawi dalam kitab Riyadhus Shalihin No. 1527 meyebutkan sebuah hadis Dari Ka'ab bin Malik r.a. bahwa ia berkata: "Nabi saw bersabda dan waktu itu beliau sedang duduk di kalangan kaum di Tabuk- yakni orang-orang yang sama-sama mengikuti peperangan Tabuk: "Apakah yang dikerjakan oleh Ka'ab bin Malik?" Kemudian ada seorang dari Bani Salimah berkata: "Ya Rasulullah, ia tertahan oleh baju indahnya dan keadaan sekelilingnya yang permai pandangannya." Mu'az bin Jabal lalu berkata: "Buruk sekali yang engkau katakan itu. Demi Allah ya Rasulullah, kita tidak mengetahui tentang diri Ka'ab itu melainkan baik-baik saja." Rasulullah s.a.w. lalu berdiam diri. (Muttafaq 'alaih)

Sikap diam Rasulullah saw. Menunjukkan bahwa beliau membenarkan apa yang dikatakan oleh Mu'adz bin Jabal. Walaupun Ka'ab bin Malik pernah berbuat fasiq, tetapi ia telah bertaubat dari perbuatannya. Tuduhan tanpa dasar dari seorang bani Salimah tentu akan sangat menyakitkan bagi Ka'ab. Karena seolah-olah Ka'ab lebih mencintai kehidupan dunia daripada berjihad di jalan-Nya.

Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang tersembunyi dalam hati manusia. Pun ketika orang lain melakukan sesuatu yang kita pandang sebagai sebuah kesalahan, padahal mungkin ia sedang menerapkan sebuah kaidah fiqih yang berbunyi: "Memilih yang lebih ringan dari dua kejelekan" ketika harus memilih, atau kaidah "Menghilangkan kerusakan didahulukan atas mengambil kemanfaatan", atau seperti yang dilakukan As-Syahid Imam Hasan Al-Banna ketika beliau masuk ke perkampungan yang mempermasalahkan tentang adzan menggunakan shalawat dan tidak, hingga hampir terjadi konflik. Dan yang beliau katakan adalah mungkin cukup mengagetkan, "Tidak usah adzan!". Persatuan umat lebih didahulukan atas mengambil mashlahat dari sebuah sunnah.

Oleh karenanya, selalu berprasangka baik adalah sesuatu yang menyelamatkan para aktivis dakwah dari menyebarkan ghibah, namimah, dan fitnah. Jika tidak bisa, maka lakukan tabayyun. Jika memang ternyata itu aib yang disesali oleh pelakunya, maka menutup aib saudara adalah sebuah keharusan. (@RafifAmir)


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search