Jenggot, Agus Salim, dan Sjahrir

- September 15, 2018
foto: kompasiana
Saat itu, Haji Agus Salim, salah seorang tokoh Sarekat Islam sedang naik mimbar. Ia berpidato dengan berapi-api. Di tengah ia berpidato, segerombolan pemuda yang diketuai Sjahrir datang dengan maksud mengacau. Mereka menertawakan dan mengejek jenggot Agus Salim.
Mereka menyela setiap kalimat Agus Salim dengan meniru suara kambing, "Mbeeek.... Mbeeek..."
Tak tahan, akhirnya tokoh pendiri bangsa itu angkat biacara. "Sungguh hal yang menyenangkan bagi saya karena kambing-kambing pun turut hadir dalam ruangan ini untuk menyimak pidato saya. Hanya sayang, mereka kurang mengerti bahasa manusia sehingga menyela dengan cara yang kurang pantas. Jadi, saya menyarankan agar mereka bisa meninggalkan ruangan ini dan silakan makan rumput di lapangan. Setelah pidato saya yang ditujukan kepada manusia selesai, barulah mereka dipersilakan masuk lagi dan saya akan berpidato dalam bahasa kambing khusus untuk mereka. Karena dalam Islam, kambing pun ada amanatnya dan saya menguasai banyak bahasa."
"Pukulan" telak dari Haji Agus Salim itu sukses membuat Sjahrir dan gerombolannya memerah wajahnya karena menahan malu. Ini diakui sendiri oleh Sjahrir, "Saat itu kami tidak meninggalkan ruangan. Namun muka kami merah melihat gelak tawa dari hadirin lainnya."
Perbedaan pemikiran antara Sjahrir dan Agus Salim memang meruncing tajam, sebagaimana juga terjadi pada tokoh-tokoh lainnya. Namun Sjahrir dengan jujur mengungkapkan bahwa sosok Agus Salim meninggalkan kesan yang mendalam bagi dirinya.
Ia pernah berkunjung ke rumah Agus Salim dan turut menyaksikan bagaimana keseharian beliau. "Makanan hariannya tidak lebih dari nasi garam dan ubi kayu," tutur Sjahrir. "namun suasana di dalam rumah selalu gembira dan penuh dengan fikiran yang segar dan menarik."

ref: Majalah Tarbawi Edisi 27/31 Desmeber 2001


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search