Jalan Lurus Erdogan di Idlib – Suriah

- September 11, 2018
Oleh Teuku Zulkhairi*)

IDLIB, salah satu Provinsi Suriah sebenarnya masuk dalam zona de eskalasi militer sesuai kesepatan Astana antara Turki, Rusia dan Iran.

Di zona ini “diharamkan” ada serangan militer dari pihak manapun, karena sangat padat penduduk, di mana banyak di antaranya adalah pengungsi dari wilayah lain.

Tapi Rusia dan Iran rupanya terus menerus memfasilitasi dan mendukung rezim Bashar al-Assad yang telah kehilangan legitimasi rakyatnya untuk menyerang zona ini.
Alhasil, jika tidak ada yang bisa hentikan, Idlib diprediksi akan menjadi zona pembantaian terbesar di dunia modern.

Seperti yang sering dilakukannya di tempat lain, Rusia dengan pesawat canggih dan bom-bom mutakhirnya akan membakar wilayah ini untuk memudahkan milisi-milisi bekingan Iran untuk masuk dan mengambil kantong terakhir oposisi Suriah.
Kita tidak heran mengapa Iran dan Rusia melanggar kesepakatan Astana yang mereka buat sendiri dengan Turki.

Kecurigaan saya, Iran dan Rusia mengambil inisiatif menyerang Idlib, karena merasa Turki sedang punya banyak musuh, khususnya karena Amerika Serikat juga sedang menargetkan Turki dalam perang ekonominya.

Dia ditangkap pihak keamanan Turki karena keterlibatannya dalam jaringan terorisme.
Mungkin faktor Andrew Brunson hanyalah alasan kecil.

Lebih-lebih lagi, jika Iran dan Rusia membakar Idlib, maka sudah pasti Turki akan kedatangan jutaan pengungsi baru dari Idlib.
Padahal saat ini Turki sendirian merawat 3,5 juta pengungsi Suriah yang telah duluan tiba.

Pada faktanya,  Amerika menyerang lira Turki untuk tujuan melemahkan ekonomi Turki, sebuah serangan lanjutan setelah kudeta gagal dua tahun lalu. Inilah kesimpulan yang lebih logis.

Jadi, nampaknya Rusia dan Iran punya keyakinan kuat bahwa Turki tidak akan berkutik menyaksikan Rusia dan Iran membakar Idlib bersama rezim Bassar Assad yang memang terkenal sadis karena telah membunuh hampir satu juta rakyatnya.

Iran dan Rusia, di satu sisi memiliki hubungan erat dengan Turki dan bahu membahu di antara ketiganya dalam upaya melawan hegemoni Amerika di dunia.

Tapi dalam krisis Idlib, Turki memiliki pandangan yang berbeda dengan Iran dan Rusia.
Turki berupaya mempertahankan Idlib sesuai dengan semangat Islam yang mereka pahami, untuk melindungi orang-orang yang tertindas dalam konflik Suriah.

Lalu apa yang akan dilakukan Erdogan?
Saya melihat di sini ada hal menarik memperhatikan “jalan Erdogan” di Idlib khususnya.
Saya menyebut ini sebagai “jalan lurus”.

Merespon krisis Idlib, di situs berita Yeni Safak Erdogan mengatakan, “Kami tidak akan berada di pinggir lapangan menyaksikan pembantaian di Suriah”.

Pada saat yang bersamaan, Erdogan telah menempatkan banyak perangkat militernya di perbatasan Suriah untuk apa yang diprediksi para pengamat sebagai upaya serius mengantisipasi serangan Rusia dan rezim Bassar Assad di Idlib.

Selain itu, LSM-LSM Turki juga bersiap-siap menampung pengungsi dari Idlib yang bakal berdatangan ke Turki, jika Rusia dan Iran akan membakar Idlib bersama rezim Bashar Assad.
Meskipun ekonomi mereka sedang digempur Amerika lewat pelemahan mata uang lira, namun masyarakat Turki tidak punya pilihan selain memikul beban besar di pundak mereka untuk tetap melayani pengungsi Suriah dengan penuh kasih sayang, sesuai perintah Islam.

Sebab, ke mana lagi umat Islam akan mengadu nasib jika Turki tidak menerima mereka?
Maka dalam salah satu komentarnya, Bulent Yildirim, Presiden IHH, sebuah LSM kemanusiaan yang sangat aktif membantu orang-orang lemah di seluruh dunia, mengatakan;

“Mereka (umat Islam di Idlib) ingin berlindung di Turki, mereka akan segera menuju Turki dikarenakan serangan yang ada. Karena setiap orang tentu ingin menyelamatkan anak-anak dan hidup mereka.

Lalu apa yang akan dilakukan Erdogan?
Saya melihat di sini ada hal menarik memperhatikan “jalan Erdogan” di Idlib khususnya.
Saya menyebut ini sebagai “jalan lurus”.

Merespon krisis Idlib, di situs berita Yeni Safak Erdogan mengatakan, “Kami tidak akan berada di pinggir lapangan menyaksikan pembantaian di Suriah”.

Pada saat yang bersamaan, Erdogan telah menempatkan banyak perangkat militernya di perbatasan Suriah untuk apa yang diprediksi para pengamat sebagai upaya serius mengantisipasi serangan Rusia dan rezim Bassar Assad di Idlib.

Selain itu, LSM-LSM Turki juga bersiap-siap menampung pengungsi dari Idlib yang bakal berdatangan ke Turki, jika Rusia dan Iran akan membakar Idlib bersama rezim Bashar Assad.
Meskipun ekonomi mereka sedang digempur Amerika lewat pelemahan mata uang lira, namun masyarakat Turki tidak punya pilihan selain memikul beban besar di pundak mereka untuk tetap melayani pengungsi Suriah dengan penuh kasih sayang, sesuai perintah Islam.

Sebab, ke mana lagi umat Islam akan mengadu nasib jika Turki tidak menerima mereka?
Maka dalam salah satu komentarnya, Bulent Yildirim, Presiden IHH, sebuah LSM kemanusiaan yang sangat aktif membantu orang-orang lemah di seluruh dunia, mengatakan;

“Mereka (umat Islam di Idlib) ingin berlindung di Turki, mereka akan segera menuju Turki dikarenakan serangan yang ada. Karena setiap orang tentu ingin menyelamatkan anak-anak dan hidup mereka.


Artikel ini telah tayang di serambinews.com dengan judul Jalan Lurus Erdogan di Idlib – Suriah
Editor: Zaenal


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search