Ikhwanul Muslimin, Perjalanan Panjang Menuju Kemenangan

- September 15, 2018

Berdirinya Ikhwanul Muslimin tak bisa terlepas dari sosok sentral Hasan Al-Banna. Sejak lulus dari Universitas Darul Ulum Kairo dengan predikat cumlaude, ia diangkat menjadi guru SD di kota Ismailiah. Dari sanalah aktivitas dakwahnya bermula. Ia mendatangi masjid-masjid dan kedai-kedai kopi untuk menyampaikan dakwahnya. Cara dan teknik penyampaian yang menarik, membuat orang terkesan dan menerima dakwahnya.

Hasan Al-Banna membagi target dakwahnya menjadi empat kelompok: para pemuka agama, tokoh tarekat dan tasawuf, tokoh masyarakat, dan pengunjung klub/perkumpulan. Ia memiliki gaya tersendiri dalam berinteraksi dengan empat kelompok masyarakat yang berbeda itu. Berkat kecerdasan dan kepiawannya, semua elemen masyarakat menaruh hormat padanya, atau seminimal-minimalnya tidak merintangi jalan dakwahnya. Hanya sekitar satu tahun lamanya, dakwah Hasan Al-Banna menginspirasi banyak orang untuk berbuat baik.

Ikhwanul Muslimin Berdiri
Suatu hari, Hasan Al-Banna didatangi enam orang yang mengaku terkesan dengan cara-cara dakwahnya. Keenam orang itu adalah Hafidz Abdul Hamid, seorang tukang kayu; Ahmad Al-Hushary, seorang tukang cukur; Fuad Ibrahim, seorang tukang setrika; Ismael Izz, seorang tukang kebun; Zaki Al-Maghriby, penyewa dan montir sepeda; dan Abdurrahman Hasbullah, seorang supir. Mereka mengaku tertarik bergabung dengan Hasan Al-Banna untuk menyampaikan dakwah.  Keinginan itu disambut oleh Hasan Al-Banna dengan baik. Ia mengusulkan sebuah nama bagi kelompoknya itu, Ikhwanul Muslimin (Persaudaraan Islam) dan semuanya setuju. Maka berdirilah Ikhwanul Muslimin, pada bulan Dzulqa’idah 1346 H atau Maret 1928. Saat itu, Hasan Al-Banna baru berusia 22 tahun.

Sebagai markas, mereka menyewa sebuah kamar yang kemudian diberi nama “Sekolah Penempaan”. Di sanalah beliau mulai merancang sistem pendidikan untuk gerakan Ikhwanul Muslimin. Pengajaran yang diberikan antara lain: membaca dan menghafal Alquran, memahami dan menghafal hadis, latihan berpidato, dan latihan mengajar. Hanya dalam beberapa bulan, jumlah anggota Ikhwanul Muslimin bertambah dengan pesat.

Pada tahun 1931, Ikhwanul Muslimin mengadakan muktamar yang pertama di kota Ismailiah.

Pada Tahun 1932, Hasan Al-Banna memindahkan markas Ikhwanul Muslimin ke jantung kota Mesir, Kairo. Tepatnya di sebuah gedung di Kampung Nafi’ No.24, Srujiah. Setahun kemudian, dakwahnya telah tersebar hingga 50 kota di seluruh Mesir. Di kota-kota itu, cabang IM berdiri. Para da’i IM terus melalukan dakwahnya siang-malam dengan kemampuan retorika yang mengagumkan.

Selain berdakwah secara lisan, membangun masjid, sekolah Alquran, klub, sekolah bisnis, IM juga menerbitkan risalah Al-Mursyid yang memuat tujuan dan prinsip Ikhwanul Muslimin. Yang dilanjutkan dengan menerbitkan majalah mingguan Ikhwanul Muslimin pada 1933. Sebagai pemimpin redaksi saat itu, penulis ternama Muhibbuddin Al-Khatib.

Pada tahun 1935, Ikhwanul Muslimin mengadakan muktamar nasional ketiga di Kairo.

Pada tahun 1936, Ikhwanul Muslimin mendirikan tim kepanduan dan berperan besar dalam merevisi undang-undang kepramukaan Mesir menjadi lebih islami. Di tahun yang sama, IM sudah melangkah memasuki medan politik. Ditandai dengan surat-surat Al-Banna kepada pemerintah. Lebih jauh, beliau menyerukan kepada pemimpin dunia Islam untuk kembali pada jalan Islam. Tidak hanya seruan, beliau bahkan menawarkan 50 program untuk menyelamatkan dunia yang sedang sakit.

Pada tahun 1937, Ikhwanul Muslimin menyusun peraturan tentang kesatuan militer. Pendidikan yang diterapkan dalam kesatuan militer tersebut sangatlah ketat.

Pada tahun 1938, Ikhwanul Muslimin secara serius memberi perhatian khusus pada kegiatan mahasiswa. Diadakanlah konferensi besar yang dihadiri pelajar dan mahasiswa Mesir maupun luar Mesir. Di tahun yang sama, IM menyusun konsep pelajaran agama dengan menemui Syekh Al-Azhar, Syekh Al-Maraghi. Di tahun ini juga, edisi perdana Majalah Nadzir terbit. Isinya tentang orientasi kebangsaan Ikhwan dan permulaan andil dalam perjuangan politik baik di dalam maupun luar negeri.

Pada tahun 1939, Muktamar kelima diadakan di Giza. Saat itu, IM sudah memiliki lebih dari 300 cabang di seluruh Mesir. Pada pertemuan tersebut, diberikan penghargaan kepada mufti besar dan para mujahidin di Palestina. Di tahun yang sama, Ikhwanul Muslimin mengelola majalah Islam Al-Manar, yang didirikan Muhammad Rasyid Ridha.

Di tahun itu, IM juga menyampaikan beberapa sikap politik terkait Perang Dunia II dan menyampaikan gagasan-gagasannya untuk perbaikan Mesir kepada pemerintah.

Pada tahun 1941, Mukatamar keenam diselenggarakan. Salah satu hasil keputusan muktamar adalah bahwa anggota IM diperbolehkan ikut pemilhan umum untuk menjadi anggota parlemen. IM juga membentuk dewan pendiri yang berfungsi sebagai Majelis Syura.

Sejak periode inilah, dakwah IM mulai mendapat tekanan dari pihak pemerintah. Hasan Al-Banna dipindahkan paksa ke Qona, dua majalah mingguan yaitu Syu’a dan At-Ta’awun dibredel. Tak hanya itu, Majalah bulanan Al-Manar juga ikut dibredel, semua percetakan milik IM ditutup, puncaknya Hasan Al-Banna beserta dua orang pengurus IM ditangkap dan dipenjara selama satu bulan.

Pada tahun 1942, setelah bebas, Hasan Al-Banna mengajukan pencalonan sebagai anggota parlemen. Namun An-Nahas Pasha buru-buru mencegahnya. Terjadi negosiasi yang menghasilkan keputusan Hasan Al-Banna siap menarik kembali pencalonannya dengan syarat pemerintah kembali mengizinkan dakwah IM dan melonggarkan tekanan terhadap anggota jamaah.

Namun hal ini tidak berlangsung lama, An-Nahas kembali menutup semua cabang Ikhwan. Semua aktivitas anggotanya diawasi. Tetapi IM berusaha menahan diri. Sampai jabatan An-Nahas berakhir tahun 1944.

Pada Oktober 1944, Ahmad Mahir Pasha tampil menggantikan An-Nahas. Pemilu akan segera digelar. Ikhwanul Muslimin mendaftarkan diri dalam kontestasi politik tersebut. Namun lagi-lagi, pemerintah berusaha menghalangi. Para calon anggota parlemen dihalangi untuk tampil, para tokohnya ditangkap. Sampai kemudian terjadi peristiwa politik yang menggemparkan. Ahmad Mahir Pasha tewas dibunuh. Al-Banna dan IM dituding sebagai pelakunya, tetapi akhirnya tak terbukti di pengadilan.

Pada tahun 1945, Ikhwanul Muslimin menyelenggarakan pertemuan besar yang menghadirkan semua cabang dan ranting. Dalam kesempatan itu Hasan Al-Banna berpidato, “Pada suatu ketika, Ikhwanul Muslimin, engkau akan memiliki 300 ksatria andalan. Mereka akan dilengkapi dengan iman dan tekad, ilmu dan kebudayaan, pembinaan dan latihan jasmani. Pada saat itu nanti, ajaklah aku menyertaimu. Kita akan menyelami samudera, membelah angkasa, dan menghajar setiap tiran berkepala batu. Insya Allah, kita pasti melakukannya.”

Pada tahun 1946, Ikhwanul Muslimin mensponsori kegiatan pelajar dan mahasiswa di sekolah dan berbagai universitas. Ikhwan juga mendorong demonstrasi mahasiswa untuk menolah memorandum pemerintah Inggris terhadap Mesir. Pada perkembangannya, demonstrasi ini menarik lebih jauh sejumlah kalangan sehingga pada puncaknya, menumbangkan pemerintahan An-Naqrasyi pada 15 Februari 1946.

Penggantinya, Shidqi Pasha tak jauh beda. Di bawah pemerintahannya, segala pertemuan IM dilarang, masjid diawasi, dakwah dihentikan, sebagian besar anggota ditangkap.

Namun itu tak menurutkan langkah IM. Ikhwan terus menentang keputusan Shidqi Pasha yang melakukan perundingan dengan Inggris. Demonstrasi kembali terjadi. Puncaknya pada “Hari pembakaran”. Semua surat kabar, majalah, dan buku berbahasa Inggris dibakar di lapangan terbuka. Kerusuhan terjadi, saat pemerintah berusaha menangkap anggota Ikhwan.

Pada 29 September 1947, Dewan Keamanan PBB mengumumkan resolusi pembagian Palestina pada Israel. Ikhwanul Menulis dengan tegas menolak. Tidak hanya pernyataan sikap, IM ikut membantu pembebasan Palestina dengan harta dan jiwa. Para mujahid dikirim ke Palestina dan sebagiannya menemui syahid.

Mengetahui itu, perdana menteri An-Nuqrasyi meradang. Lebih jauh, ia menganggap Ikhwanul Muslimin juga akan melakukan kekerasan di dalam negeri dengan melakukan kudeta. Maka, pada 8 Desember 1948, juga atas desakan Inggris dan sekutunya, ia memerintahkan agar Ikhwanul Muslimin dibubarkan. Saat itu jumlah anggota aktif IM sudah mencapai lebih dari 1 juta orang belum termasuk simpatisan. Semenara pasukan gerilya yang dimilikinya sejumlah 70 ribu orang.

28 Desember 1948, An-Nuqrasyi terbunuh. Ikhwan dituduh berada di balik pembunuhan itu. Abdul Hadi Pasha yang menggantikan An-Nuqrasyi bertindak lebih barbar. Anggota Ikhwan dibenamkan dalam kamp-kamp konsentrasi. Harta mereka dijarah. Pada puncaknya, pendiri sekaligus pemimpin Ikhwanul Muslimin, Hasan Al-Banna dibunuh dengan keji pada 12 Februari 1949. Kepergian dan syahidnya beliau meninggalkan duka yang teramat dalam di hati para anggotanya.

Pada tahun 1950, Dewan Tinggi Negara Mesir memutuskan Ikhwan direhabilitasi. Hasan Al-Hudhaibi tampil memimpin.

Oktober 1951, konflik Mesir dan Inggris memuncak. Ikhwanul Muslimin melancarkan perang urat saraf dengan Inggris di Terusan Suez.

23 Juli 1952, revolusi yang dipimpin Gamal Abdul Nasser meletus. Raja Farouk jatuh. Ikhwanul Muslimin dipaksa untuk menerima mandat revolusi yang mengatakan bahwa militer akan mengambil alih republik seluruhnya. Namun IM menolak keras. Perbedaan tajam antara IM dan Nasser dalam menyikapi Mesir pascarevolusi inilah yang meruncing menjadi permusuhan. Nasser menyimpan dendam.

Pada Tahun 1954, pemerintah melakukan penangkapan besar-besaran terhadap sejumlah anggota Ikhwan. Bahkan 6 diantaranya dieksekusi mati.

Beberapa kali terjadi konflik berdarah antara IM dan pemerintahan Gamal Abdul Nasser. Nasser melakukan pembantaian besar-besaran. Ia berusaha melenyapkan IM.

Pada 19 Agustus 1966, Sayyid Qutb, ideolog Ikhwan dihukum mati. Ia yang pernah bersama Nasser memimpin revolusi Juli. Yang pernah dihormati dan disegani olehnya. Tetapi ia pula yang menggantung sahabatnya itu.

Tahun 1970, Anwar Sadat berkuasa. Anggota-anggota Ikhwan yang dipenjara dibebaskan. Umar Tilmisani tampil memimpin Ikhwan. Umar Tilmisani menempuh jalan moderat berkompromi dengan penguasa. Ia berkata, “Bergeraklah dengan bijak dan hindari kekerasan dan ekstremisme.”

Sikap moderat yang ditunjukkan Ikhwanul Muslimin membuat sebagian mantan anggota IM mendirikan faksi-faksi perlawanan. Salah satu yang terkenal adalah Al-Jihad.

Pada 6 Oktober 1981, Anwar Sadat ditengarai membuat kesepakat dengan Israel terkait Palestina. Ia kemudian tewas terbunuh.

1984, Pengganti Sadat, Hosni Mubarak mengakui IM sebagai organisasi keagamaan tetapi tidak mengakuinya sebagai kekuatan politik.

Pimpinan Ikhwanul Muslimin
1.      Hasan Al-Banna (1928-1949)
2.      Hasan Al-Hudhaibi (1949-1972)
3.      Umar At-Tilmisani (1972-1986)
4.      Muhammad Hamid Abu Nasr (1986-1996)
5.      Mustafa Masyhur (1996-2002)
6.      Ma’mun Al-Hudhaibi (2002-2004)
7.      Muhammad Mahdi ‘Akif (2004-2010)
8.      Muhammad Badie (2010- )
9.      Mahmud Izzat (2013-  )

Pemikiran Ikhwanul Muslimin
Pemahaman dakwah Ikhwan moderat dan universal. Hasan Al-Banna mengatakan, “Gerakan Ikhwan adalah dakwah salafiyah, Thariqah sunniyah, haqiqah sufiyyah, lembaga politik, klub olahraga, lembaga ilmiah dan kebudayaan, perserikatan ekonomi dan pemikiran sosial.”

Hasan Al-Banna dalam Risalah Ta’alim juga meyebutkan tentang arkanul bai’ah dan mengatakan, “Wahai saudaraku yang sejati, ini merupakan garis besar dakwah kita. Engkau bisa menyimpulkannya menjadi lima kata: sederhana, membaca Alquran, shalat, sikap ksatria, dan akhlak.”

Lambang Ikhwanul Muslimin
Pada mulanya lambang Ikhwan adalah cincin perak dengan sepuluh sisi yang dikenakan pada jari manis sebelah kanan.

Sayyid Qutb menjelaskan tentang pemahaman Ikhwan. Bahwa lambang Ikhwan berupa dua pedang menyilang melingkari Alquran, ayat Alquran dan tiga kata: haq (kebenaran), quwwah (kekuatan), dan hurriyah (kemerdekaan).

Dr. Mursi mengatakan bahwa simbol Alquran menunjukkan rujukan utama dalam dakwa Ikhwanul Muslimin dan simbol pedang menunjukkan kekuatan untuk melawan penjajahan.

Perkembangan Berikutnya
Pada tahun 1987 Ikhwanul Muslimin meraih kursi di parlemen dengan menggunakan Partai Amal Isytiraki dan Partai Ahrar sebagai kendaraannya.

Pada tahun 2001, Ikhwanul Muslimin telah memiliki cabang di 60 negara.

Pada tahun 2005, Ikhwanul Muslimin meraih seperlima dari kursi parlemen. Dari 150 kandidat yang ikut pemilu, 88 diantaranya terpilih sebagai anggota parlemen.

Pada tahun 2010, Ikhwanul Muslimin tidak memperoleh kursi sama sekali dan memboikot pemilu karena dinilai sarat kecurangan.

25 Januari 2011, Revolusi meletus. Husni Mubarak didesak mundur.

11 Februari 2011, Mubarak mengundurkan diri. Ikhwanul Muslimin mendirikan sayap politik bernama Partai Kebebasan dan Keadilan. Partai ini menang namun kemudian pengadilan membubarkan dengan alasan terjadi kecurangan dalam pemilu.

30 Juni 2012, Mursi memperoleh suara 51,73 persen suara dan kemudian pada Juli 2012 diangkat sebagai presiden.

3 Juli 2013, Militer melakukan kudeta. Mursi ditangkap

Dukungan terhadap Mursi bagai gelombang. Masyarakat turun ke jalan menentang kudeta. Tetapi kemudian disambut dengan berondongan senjata. Ribuan orang syahid. Peristiwa ini dikenal dengan tragedi Rabiah Al-Adawiyah.

20 Agustus 2013, Pemimpin Ikhwanul Muslimin, Mohammad Badie ditangkap dengan tuduhan menghasut kekerasan yang berujung pada banyaknya korban

23 September 2013, Ikhwanul Muslimin dilarang beroperasi. Asetnya disita. 3 bulan kemudian, pemerintah menyatakan Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi teroris.

Referensi
Ikhwanul MuslimunTinjauan Sejarah Sebuah Gerakan Islam. Ishak Mussa Al-Husaini. Grafiti Pers, cetakan 1,1983.
Menuju Jama’atul Muslimin, Hussain bin Muhammad bin Ali Jabir. Rabbani Press, cetakan 6, 2008
Ikhwanul Muslimin Konsep Gerakan Terpadu, Ali Abdul Halim Mahmud. Gema Insani Press. Cetakan 1, 1997
Memoar Hasan Al-Banna, Imam Syahid Hasan Al-Banna. Era Intermedia. Cetakan 4, 2004
Majalah Tempo, 30 September 2001
www.eramuslim.com


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search