Bahaya Memutus Silaturahim

- September 26, 2018


"Sesungguhnya di antara riba yang paling berat adalah berlama-lama (tidak bertegur sapa) tanpa alasan yang benar. Hubungan silaturahim itu adalah pohon syajnah (yang lebat dan rimbun daunnya) dari ar-Rahman. Barangsiapa yang memutuskannya maka Allah Ta'ala akan mengharamkan surga baginya.” (HR. Ahmad)

Ketika membaca hadis ini, saya teringat pada salah seorang keluraga dekat yang tak bertegur sapa dengan saudaranya, mungkin sudah berbilang tahun. Saya sudah berusaha mengingatkan, tapi ia justru berkata, “Biar aku yang menanggung dosanya!” memutus silaturahim dengan sesama muslim saja dilarang, apalagi dengan saudara kandung?

Hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad itu jelas. Rasulullah SAW mengumpamakan orang yang memutus silaturahim dan saling tidak bertegur sapa seperti orang yang melakukan riba paling berat. Padahal kita tahu bahwa dosa riba sangatlah besar. Satu di antara 7 dosa besar. Di dalam surat Al-Baqarah ayat 275, Allah mengancam pelaku riba dengan neraka jahannam.

Kalau kemudian memutus silaturahim disebut sebagai riba yang paling berat, saya tak terbayangkan seberapa banyak dosa yang akan dipikulkan pada pelakunya. Dalam hal ini, memutus silaturahim tanpa alasan yang benar. Mungkin hanya karena persoalan-persoalan duniawi yang remeh, karena hutang-piutang, harta gono-gini, atau hubungan-hubungan muamalah lainnya yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan kepala dingin dan saling memaafkan.

Silaturahim ibarat pohon syajnah, kata Rasulullah. Pohon yang lebat dan rimbun daunnya. Artinya, silaturahim itu menedukkan, menyejukkan, melahirkan ketentraman dan ketenangan dalam jiwa. Sebaliknya, permusuhan hanya akan membuat hati gelisah, amarah, dan kebencian yang merusak. Maka mengapa banyak orang yang demi memuaskan egonya, enggan untuk menyambungnya kembali. Enggan memaafkan dan memberi maaf.

Padahal Allah Maha Pemaaf. Allah yang berkali-kali didurhakai oleh hambaNya, dengan kedurhakaan yang besar, masih memaafkan jika orang tersebut bertaubat dengan sungguh-sungguh. Mengapa pula kita enggan menyambung kembali silaturahim dan kemudian melupakan peristiwa menyakitkan yang pernah terjadi? Rasulullah SAW marah dan berduka saat menyaksikan pamannya, Hamzah bin Abdul Muthallib syahid dan tubuhnya diperlakukan dengan sangat biadab, tetapi Rasulullah memaafkan Hindun yang kemudian masuk Islam.

Jika hanya ridha Allah yang dicari, insya Allah seharusnya kita bisa menyambung kembali silaturahim yang terputus itu. Sebab kita ingin ridhaNya, tak ingin murkaNya. Menyambung beroleh surga. Memutusnya kekal di neraka. Na’udzubillah.

sumber gambar: klikuk.com


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search