Cerpen Inspiratif : Kabut di Mata Ibu - Karya Zainuddin Muza

- April 14, 2015

KABUT DI MATA IBU

Cerpen Inspiratif : Zainuddin Muza

 Ibu punya dua mata yang indah. Kelopak matanya bulat. Bulu matanya halus dan rapi. Konon, di dalam mata ibu itu ada kehidupan. Kehidupan itu di sana sangat indah. Dalam kehidupan itu ada sungai, lautan, hutan, telaga, dan gunung-gunung. Katanya ayah pernah mengunjunginya. Tidak hanya sekali, tapi ayah sudah berkali-kali mengunjunginya. Hebat kan mata ibu? Kata ayah sambil terkekeh.
Akhirnya, atas perkataan ayah itulah aku sering murung di kamar. Melihat foto-foto ibu. Dan, setiap kali melihat foto ibu, pasti aku melihat matanya. Aku terus pandang foto mata ibu, namun belum menemukan kehidupan. Aku tidak mengerti mengapa di mata ibu itu ada kehidupan? Apa ayah berbohong? Tidak mungkin. Kalau ayah suka bohong, mana mungkin ibu tetap setia padanya, meski ditinggal bekerja di kota Tua?
***
Suatu pagi ibu sibuk menyisir rambutku, meski umurku menginjak usia sepuluh. Namun begitulah aku. Aku selalu diberlakukan seperti anak kecil oleh ibu lantaran kurangnya perhatian dari ayah. Ibu sangat sayang padaku. Dia yang selalu memintaku untuk menyisir rambutku. Aku tambah sayang pada ibu.
Ketika itu, kulihat matanya indah sekali, tapi tidak ada tanda kehidupan di dalamnya. Aku terheran-heran. Apa benar ayah memang berbohong? Maka, aku bergegas menanyakan langsung pada ibu.
“Bu, kata ayah. Ibu itu punya mata yang sangat indah. Di dalam mata Ibu itu, katanya ada kehidupan. Ayah di sana sering melakukan perjalanan. Tapi, setelah aku melihat mata Ibu, kenapa tidak ada kehidupan? Ayah pasti berbohong!”
Ibu hanya menanggapiku dengan senyum. Kulihat matanya seperti kaca. Bening sekali. Bulu matanya sepertinya sangat lembut, tertata rapi. Alisnya seperti diukir sehingga tampak rapi. Dan tampak benjolan menyerupai jerawat tumbuh di keningnya. Sesekali dia tersenyum padaku. Senyuman yang lembut. 
“Ayah berbohong kan, Bu?”
Kali ini ibu malah menggeleng. Senyumnya semakin berkembang. “Ayahmu tidak berbohong kok. Memang begitu kenyataanya. Dan Ayahmu juga punya mata yang indah. Di dalamnya juga ada kehidupan. Ibu sering jalan-jalan di dalamnya.”
“Ada laut, sungai, hutan, telaga, dan gunung-gunung.”
“Iya.”
Aku bungkam. Ternyata semuanya itu benar. Aku kembali mengamati mata ibu, yang sebenarnya memang indah. Kelopak matanya bulat. Indah sekali! Kalau seperti ini, aku ingat jadi ingat ayah.
“Ibu, aku ingin ke kota Tua.”
“Buat apa?”
“Ingin ketemu Ayah!”
“Ayahmu kan, bekerja. Jadi jangan diganggu.”
“Sebentar saja. Apa salahnya? Lagipula, Ayah kan sudah tiga bulan ini tidak pulang. Aku rindu Ayah, sekalian mau melihat matanya, yang kata Ibu ada kehidupan. Aku ingin membuktikan sendiri!”
Ibu yang sejak tadi hanya tersenyum, kini tawanya pecah. Ketika kulihat wajahnya, tampak berseri. Sepertinya ibu sangat senang kalau ketemu ayah. Seperti itulah penglihatanku mengenai ibu, sebelum kami berangkat ke kota Tua menemui ayah.
***
Kota Tua dengan tempat tinggalku memang jauh. Lebih jauh dari pandangan mata. Kami harus menaiki kendaraan umum, dengan melewati jalan yang berliku-liku, jembatan, selat, rel kereta api, dan telah memakan waktu selama dua hari. Perjalanan yang benar-benar melelahkan.
Ketika kuperhatikan ibu berkali-kali menghubungi ayah, di wajahnya tampak kekhawatiran. Keringatnya bercucuran. Berkali-kali ibu mengusapnya, tapi keringat itu tetap tumbuh lagi. Dan ibu berkali-kali membelikan aku minuman dingin karena kota ini udaranya panas.
“Sabar ya?” ucap Ibu sambil mengusap keringatku dengan sapu tangan, dan mengelus-elus kepalaku yang mulai panas. “Sebentar lagi Ayahmu datang.”
“Jauh ya, Bu, tempat Ayah dari sini?”
“Heem.”
Tak lama, ada sosok lelaki yang bertubuh tegap, dengan memakai jas hitam dan memakai kaca mata. Rambutnya yang hitam pekat seakan diatur dengan cara membelah dua secara simetris di tengah kepala. Aku tahu dia ayahku. Dia langsung memeluk ibu dengan erat, seakan mencurahkan kegembiraannya. Ayah sepertinya sangat rindu pada ibu. Ibu juga tampak demikian. Namun pelukan ayah berlanjut padaku, hingga aku benar-benar merasakan pelukan hangat seorang ayah. Lalu dia melepaskannya.
“Ayah rindu sekali sama kamu. Ayah bangga punya anak seperti kamu.”
“Aku juga bangga punya orang tua seperti Ayah, yang berpakaian seperti ini. Kayak presiden,” kataku. “Ayah, coba lihat matanya. Kata Ibu, di mata Ayah juga ada kehidupan. Ayah dulu kan juga begitu kan, sama aku?”
“Iya, lihat saja.”
Beberapa lama aku melihat mata ayah, tetapi tetap saja sama seperti mata ibu. Mata ayah juga indah, kelopaknya bulat, dan bulu matanya seperti di sisir, namun aku tidak menemukan kehidupan di dalamnya. Apa ibu berbohong? Tidak mungkin. Apalagi sampai ibu bersekongkol dengan ayah. Sangat mustahil.
Kemudian kami beranjak dari tempat itu dengan menaiki sebuah mobil yang mewah. Warnanya putih. Dan di dalamnya aku menggigil, sampai ibu memakaikan jaket tebal buatku.
Di kota Tua ini, aku tinggal di sebuah rumah yang sedikit mewah. Rumah yang diseluruh lantainya seperti kaca. Dan sungguh, sangat menyenangkan. Tapi itu hanya bertahan beberapa hari karena aku harus sekolah. Ibu tidak memberiku izin untuk berlama-lama di kota ini. Kata ibu, kota ini kurang baik untuk tinggal. Entah tahu kenapa? Apa ibu sedang berseteru dengan ayah? Tidak mungkin. Hmmm, tapi mungkin saja. Buktinya, hanya aku dan ibu pulang, sementara ayah tetap dengan kesibukan kerjanya.
***
“Ibu, kenapa aku tidak menemukan kehidupan juga di mata Ayah? Aku rasa antara mata Ibu dan Ayah tak ada bedanya. Sama-sama indah.”
Ternyata ibu masih terdiam, seperti menghiraukan pertanyaanku.
“Kenapa aku tidak bisa menemukan kehidupan itu, Bu? Ada yang salah denganku?”
Ibu menggeleng. “Tidak ada yang salah kok, Nak!”
“Lalu, apa maksud kehidupan di mata Ibu dan Ayah itu? Kenapa aku, sebagai anakmu sendiri pun tidak bisa menemukannya? Jangan-jangan Ayah dan Ibu berbohong?”
“Tidak. Ibu tidak berbohong!”
“Lantas kenapa Ibu tidak menjawab pertanyaanku itu?”
“Belum waktunya, Nak!”
Semenjak pulang dari kota Tua itulah, ada yang beda dengan ibu. Mata ibu tidak seindah dulu. Sekarang di mata ibu ada yang menggantung, seperti awan tebal dan mungkin sebentar lagi akan terjadi hujan. Aku tidak tahu kenapa ibu seperti itu? Dia selalu nampak murung, pura-pura saja tegar kalau aku tanya. Entah, aku tidak mengerti. Ada masalahkan dengan ayah?
***
Waktu pun terus berganti, ternyata ayah tidak pulang juga. Kata ibu, pekerjaan ayah bertambah. Meski begitu, ayah selalu saja mengirimkan salam buatku. Ibu meambahkan bahwa jangan pernah meragukan kasih sayang ayah. Ayah tidak akan pernah lupa padaku, katanya. Tapi jika ayah benar-benar sayang padaku, kenapa tidak bilang sendiri padaku? Kini sudah hampir setahun ayah tidak pulang, sampai berapa lama lagi? Seharusnya ayah pulang, dan menemui ibu. Aku tidak tega terus-menerus melihat mata ibu yang sudah seperti berkabut. Sungguh aku tahu dengan keadaan ibu yang dilanda rindu. Kesepiannya semakin menjadi-jadi, dan hanya ada aku yang mengisi hari-harinya, bukan ayah.
Kali ini, aku memutuskan untuk menanyakan kembali, perihal ayah. Dan aku rasa,
“Apa karena Ayah, sehingga Ibu begini?”
“Tidak.”
“Apa karena Ibu tidak menemukan kehidupan lagi di mata Ayah? Seperti itukah, Bu?” kataku, lalu berhenti sejenak. “Kalau begitu, kenapa Ibu tidak minta cerai saja. Lagipula, sepertinya ayah sudah tidak memedulikan kita.”
Baru kali ini ibu menampakkan isaknya, di hadapanku. Isak yang sangat memilukan. Aku tahu ibu rindu ayah. Aku tahu ibu tidak mau kehilangan ayah. Tapi, aku ingin tahu kenapa dia tetap mempertahankan hubungannya dengan ayah? Dalam keadaan seperti inilah, ibu akan mengelurkan rahasianya.
“Aku tidak mungkin melakukan itu, Nak. Sungguh mustahil itu terjadi.” Sesekali dia menghela napas dalam-dalam. “Seperti yang kamu bilang, bahwa di dalam mata Ibu dan juga Ayahmu itu, sebenarnya memang tidak ada kehidupan. Dan itu benar bagi penglihatan orang pada umumnya. Ungkapan itu hanya sebatas perumpamaan saja bagi setiap orang yang sudah punya pasangan hidup. Tentu itu artinya, sesama pasangan harus saling mengisi dengan pengertian, perhatian, dan kesetiaan.”
Kali aku terdiam. Ketika kulihat ibu, nampak matanya benar-benar seperti berkabut. Di dalamnya seperti ada awan yang menggantung dan menurunkan hujan. Sesekali dia mengusapnya. Meski dalam keadaan sedih seperti itu, ibu nampak selalu tegar.
“Tapi tenanglah, ibu sekarang sudah melahirkan mata yang lebih indah. Mata yang di dalamnya ada kehidupan. Ada taman yang di dalamnya ada bunga, air sungai yang jernih, buah-buahan, segala jenis minuman, dan rumah indah. Kehidupan yang lebih dari indah dari surga. Kamu tahu siapa yang punya mata indah itu?”
“Siapa, Bu?”
“Kamu.”
“Kok?”
“Karena kamu terlahir dari dua orang pasangan yang punya mata dan di dalamnya ada kehidupan.”
Aku tersenyum lirih. Dadaku meledak-ledak ingin tertawa. Lagipula perkataan ibu sangat menyanjungku. Aku tidak tahu maksud ibu berkata seperti itu. Yang pasti, ibu tidak mungkin melihatku sedih. Apalagi jika dikait-kaitkan dengan ayah, yang tak kutahu kabarnya. Tapi, ketika ketika melihat mata ibu, tetap saja seperti ada kabut yang menggantung. Mungkin saja kabut itu akan terus menggantung dan menjatuhkan hujan, jika ayah tetap tidak pulang.
Sungguh, aku tidak terima dengan perlakuan ayah pada ibu. Sepertinya ini tidak adil. Lagipula tidak hanya ibu yang merasakan perihnya rasa rindu, aku pun juga demikian. Namun sepertinya rindu itu tidak biasa. Sepertinya rindu itu telah membakar hatiku.

Yogyakarta, 2015
*penulis tercatat sebagai mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Saat bergiat di komunitas Garawiksa Institute, cerpennya pernah di muat di Majalah Arena, Minggu Pagi, Radar Surabaya, dan Republika. Selain itu novel pertamanya yang berjudul ‘Kolase’ telah diterbitkan oleh Penerbit Diva Press Yogyakarta. Kini tinggal di Yogyakarta: Jln. Gedongkuning Gg. Irawan RW. 34 RT. 08 No. 306 Banguntapan, Bantul.
Contac Person : 089674687512


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search